SAMARINDA – PT Aqueena Indonesia Aljaya terus mengembangkan inovasi produk olahan berbahan dasar bawang Dayak sebagai upaya memperkuat daya saing Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kalimantan Timur (Kaltim) di pasar nasional. Perusahaan ini menjadi salah satu pelopor pengolahan bawang Dayak, tanaman khas daerah, menjadi produk makanan siap konsumsi berupa rabuk ikan bawang Dayak dan sambal ikan bawang Dayak.
Inovasi tersebut diinisiasi langsung oleh Owner PT Aqueena Indonesia Aljaya, Wiwit Andriyanti, yang melihat masih terbatasnya pemanfaatan bawang Dayak sebagai bahan pangan oleh pelaku UMKM di Kaltim. Padahal, komoditas lokal tersebut memiliki nilai ekonomi tinggi dan selama ini lebih dikenal sebagai tanaman herbal tradisional.
“Saya melihat produk UMKM yang ada di Kaltim belum ada makanan yang mengunakan bawang Dayak, Jadi yang pertama mengeluarkan adalah agueena Indonesia aljaya group mengeluarkan olahan ikan yaitu Rabuk ikan bawang Dayak dan sambal ikan bawaan Dayak,” ujar Wiwit kepada media ini saat ditemui di rumah produksi PT Aqueena Indonesia Aljaya di Jalan A.W. Syahrani, Gang Pandan Mekar No.15, Kelurahan Air Hitam, Kecamatan Samarinda Ulu, Selasa (27/01/2026).
Menurut Wiwit, Aqueena Indonesia Aljaya menjadi pihak pertama yang berani mengolah bawang Dayak menjadi produk makanan olahan, khususnya dalam bentuk rabuk ikan dan sambal ikan. Inisiatif ini tidak hanya bertujuan menciptakan produk dengan cita rasa khas, tetapi juga menghadirkan identitas lokal Kalimantan Timur yang kuat agar mampu bersaing di pasar nasional.

Pengembangan produk dilakukan secara bertahap. Pada tahun 2021, Aqueena Indonesia Aljaya pertama kali meluncurkan produk rabuk ikan sebagai produk awal. Seiring respons pasar yang positif, perusahaan kemudian melakukan inovasi lanjutan dengan menghadirkan sambal ikan berbahan bawang Dayak pada tahun 2022. Diversifikasi produk tersebut dilakukan untuk memperluas pilihan konsumen sekaligus memperkuat posisi merek di pasar.
“Saya berinovasi saat itu di sambal ikan bawang Dayak di tahun 2022 tapi memang sebelumnya kami pertama itu mengeluarkan di tahun 2021 berupa rabuk dan sambal ikan terlebih dahulu, kami berpikir lagi produk baru,” kata Wiwit.
Lebih lanjut, Wiwit menjelaskan bahwa latar belakang keluarganya turut memengaruhi proses kreatif dalam pengembangan produk. Ia berasal dari keluarga yang sejak lama terbiasa mengolah ramuan herbal tradisional. Bawang Dayak, menurutnya, kerap dimanfaatkan oleh orang tuanya sebagai bahan pengobatan tradisional untuk membantu masyarakat yang mengalami berbagai keluhan kesehatan.
“Kami sendiri keturunan dari orang tua kami memang dia suka mengolah ramuan dulu awalnya itu, ramuan herbal jadi dia biasanya itu menolong orang dengan kayak asam urat, kolesterol dan yang lumpuh, kemudian baru berinovasi kreatif bawang Dayak dijadikan bahan makanan,” jelas Wiwit.
Dari pengalaman tersebut, muncul gagasan untuk mengolah bawang Dayak secara lebih kreatif dan modern menjadi produk makanan yang praktis, mudah dikonsumsi, serta dapat diterima oleh berbagai kalangan, tanpa meninggalkan nilai kearifan lokal.
Dalam hal pemasaran, produk olahan bawang Dayak dari PT Aqueena Indonesia Aljaya tidak hanya dipasarkan di wilayah Kalimantan Timur. Jaringan distribusi perusahaan telah menjangkau sejumlah provinsi di luar daerah, termasuk beberapa wilayah di Pulau Sulawesi seperti Palu dan Makassar. Selain itu, produk ini juga telah menembus pasar Jakarta.
Di Kalimantan Timur sendiri, produk Aqueena Indonesia Aljaya telah tersedia di berbagai ritel modern, mulai dari jaringan supermarket hingga minimarket besar, sehingga semakin mudah diakses oleh masyarakat.
“Pemasaran kami udah menjelajahi beberapa provinsi Jadi bukan di Kalimantan Timur saja bahkan Kami sudah di pulau Sulawesi seperti palu dan Makassar, untuk di Kaltim rata-rata ritel modern sudah masuk, ada eramart bahkan semua supermarket supermarket, serta sudah kini merambah Jakarta,” tutur perempuan berhijab tersebut.
Saat ini, PT Aqueena Indonesia Aljaya telah memproduksi 12 varian produk olahan bawang Dayak. Seluruh produk dikemas dengan berat 115 gram per kemasan dan dipasarkan dengan harga distributor sebesar Rp27.500. Dalam satu kali proses produksi, perusahaan menggunakan sekitar 50 kilogram cabai dan tiga kilogram bawang Dayak sebagai bahan baku utama.
“Produk kami keluarkan ada 12 varian dengan kemasan 115 gram dan harganya untuk distributor Rp27.500 dalam sekali produksi menggunakan lombok sebanyak 50 kg serta bawang Dayak 3 kg,” tutup Wiwit.
Melalui inovasi berbasis komoditas lokal ini, PT Aqueena Indonesia Aljaya berharap dapat mendorong UMKM Kalimantan Timur naik kelas, sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan lokal daerah ke pasar nasional secara berkelanjutan. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan