Sampah Jadi Sembako, Terobosan Baru Pemko Palangka Raya

PALANGKA RAYA – Cara Pemerintah Kota Palangka Raya mengatasi persoalan sampah kini tak lagi sekadar imbauan. Melalui terobosan baru Dinas Lingkungan Hidup (DLH), sampah rumah tangga bernilai ekonomi kini bisa ditukar langsung dengan kebutuhan pokok.

Program ini menyasar dua persoalan sekaligus: menekan timbunan sampah kota dan meringankan beban ekonomi warga. Sampah yang selama ini berakhir di tempat pembuangan kini justru berubah fungsi menjadi alat tukar sembako.

Pelaksana Tugas Kepala DLH Kota Palangka Raya, Berlianto, menilai keterlibatan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan program tersebut. Menurutnya, perubahan kebiasaan dari rumah menjadi fondasi utama pengelolaan sampah berkelanjutan.

“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Pemilahan dari rumah adalah langkah awal yang paling krusial,” ujarnya, Rabu (04/02/2026).

Dalam skema yang diterapkan, warga diminta memisahkan sampah sejak dari rumah. Sampah anorganik seperti plastik, kertas, logam, dan botol kaca kemudian disetorkan ke bank sampah terdekat untuk ditimbang dan dinilai.

Hasil setoran tersebut tidak lagi hanya berbentuk tabungan poin, tetapi bisa langsung dikonversi menjadi kebutuhan pokok seperti beras, minyak goreng, dan bahan pangan lainnya.

“Sampah yang dipilah dengan baik bisa langsung memberikan manfaat nyata bagi warga,” kata Berlianto.

Ia menegaskan, program ini dirancang untuk mengurangi tekanan terhadap Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kian penuh akibat sampah campuran yang sulit diolah.

“Jika sampah tidak dipilah, semua berakhir di TPA. Padahal sebagian besar masih memiliki nilai guna,” ujarnya.

Dengan adanya insentif langsung berupa sembako, Pemko Palangka Raya berharap kesadaran masyarakat meningkat, terutama dalam memisahkan sampah organik dan anorganik. Langkah ini diyakini mampu menekan volume sampah residu yang benar-benar harus dibuang.

Selain berdampak pada lingkungan, program ini juga dinilai memberi manfaat sosial. Di tengah naik-turunnya harga kebutuhan pokok, bank sampah menjadi alternatif bagi warga untuk memenuhi kebutuhan tanpa harus mengeluarkan uang tunai.

“Kami ingin masyarakat melihat sampah dari sudut pandang baru: bukan beban, melainkan sumber nilai jika dikelola dengan benar,” tutup Berlianto. []

Redaksi4

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com