JAKARTA – Pemerintah Amerika Serikat (AS) memperketat pengawasan terhadap jalur distribusi komponen militer global dengan menjatuhkan sanksi kepada 14 individu dan entitas yang diduga menjadi bagian dari rantai pasokan senjata Iran, di tengah konflik yang masih berlangsung antara kedua negara pada “Selasa, 21 April 2026”.
Kementerian Keuangan AS menyatakan, individu dan perusahaan yang dikenai sanksi berasal dari sejumlah negara, yakni Iran, Turki, dan Uni Emirat Arab. Mereka diduga terlibat dalam upaya membantu Iran memperoleh komponen penting untuk pengembangan persenjataan.
“Di bawah kepemimpinan Presiden Trump, sebagai bagian dari Economic Fury, Kementerian Keuangan akan terus melacak aliran uang dan menargetkan tindakan sembrono rezim Iran serta mereka yang memungkinkannya,” kata Menteri Keuangan Scott Besset.
Dalam daftar sanksi tersebut, AS turut menargetkan perusahaan berbasis di Dubai, Chabok FZCO, yang dituding menyediakan sensor dan komponen pesawat terbang asal AS kepada maskapai Iran, Mahan Air. Aktivitas ini dinilai melanggar pembatasan ekspor dan berpotensi mendukung kemampuan logistik Iran.
Selain itu, sanksi juga dijatuhkan kepada penukar uang asal Iran, Kamar Sabah Balkhkanlu, serta sejumlah pihak lain yang disebut terlibat “dalam pengadaan atau pengangkutan senjata atau komponen” bagi Iran. Langkah ini menjadi bagian dari strategi AS untuk memutus akses Iran terhadap jaringan internasional yang mendukung kebutuhan militernya.
Kebijakan tersebut menegaskan pendekatan AS yang semakin fokus pada pemutusan rantai pasokan global, tidak hanya menargetkan negara, tetapi juga individu dan entitas lintas batas yang dianggap berkontribusi terhadap penguatan kapasitas militer Iran. Dampaknya berpotensi meluas ke sektor perdagangan internasional dan hubungan ekonomi di kawasan terkait. []
Redaksi1
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan