PONTIANAK – Wafatnya seorang santri bernama Irfan Zaki Azizi memunculkan duka mendalam sekaligus tanda tanya di kalangan keluarga. Remaja asal Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, itu meninggal dunia setelah sempat menjalani perawatan medis di salah satu rumah sakit di Kota Pontianak. Keluarga berharap penyebab kematian tersebut dapat diungkap secara terang melalui proses hukum yang sedang berjalan.
Pihak keluarga menyatakan ingin memperoleh kejelasan mengenai apa yang sebenarnya terjadi sebelum Zaki meninggal dunia. Mereka menilai penyelidikan secara menyeluruh sangat penting agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.
Paman korban, Rio Jiwantoro, menegaskan keluarga besar tidak ingin kasus tersebut berhenti tanpa kepastian hukum. Ia menyampaikan bahwa keluarga ingin mengetahui secara pasti penyebab kematian Zaki.
“Kami berharap proses hukum tetap berjalan sampai tuntas agar keluarga bisa mengetahui dengan jelas apa yang sebenarnya menyebabkan Zaki meninggal dunia,” ujar Rio saat ditemui pada Sabtu (14/03/2026).
Rio menambahkan bahwa keluarga telah mengambil langkah resmi dengan melaporkan peristiwa tersebut kepada pihak kepolisian. Laporan itu diharapkan dapat menjadi dasar bagi aparat untuk melakukan penyelidikan secara menyeluruh.
“Laporan sudah kami sampaikan ke Polres Kubu Raya pada Rabu malam agar kejadian ini bisa diproses sesuai prosedur hukum yang berlaku,” jelasnya.
Sebelum meninggal dunia, Zaki tercatat sebagai santri kelas XI di SMA Tahfizhul Qur’an Labbaik yang berada di bawah naungan Pesantren Labbaik Indonesia di Desa Pal IX, Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya. Di lingkungan pesantren, ia dikenal dengan nama panggilan Azizi.
Menurut informasi yang diperoleh, Zaki sempat mengalami pembengkakan di bagian wajah sehingga harus mendapatkan penanganan medis. Ia kemudian dirawat di RSU Santo Antonius Pontianak hingga akhirnya dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 13 Maret 2026 sekitar pukul 07.40 WIB.
Setelah dinyatakan meninggal, jenazah Zaki dipulangkan ke kampung halamannya di Kabupaten Kayong Utara. Ia kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum Desa Harapan Mulya dengan dihadiri keluarga serta kerabat dekat yang turut berduka.
Kehilangan tersebut meninggalkan kesedihan mendalam bagi keluarga. Orang tua Zaki diketahui aktif dalam dunia pendidikan di daerahnya. Ayahnya, Ahmad Edi Santoso, merupakan seorang guru sekolah dasar, sedangkan ibunya, Nur Hasanah, menjabat sebagai kepala sekolah menengah pertama sekaligus Ketua Forum Alumni HMI-Wati (FORHATI) Kabupaten Kayong Utara.
Sementara itu, pihak kepolisian memastikan bahwa proses penyelidikan masih terus berlangsung. Aparat kepolisian sedang mengumpulkan berbagai keterangan serta bukti yang diperlukan untuk memastikan kronologi kejadian secara utuh.
Kasat Reskrim Polres Kubu Raya melalui Kasubsi Penmas, Aiptu Ade, mengatakan penyelidikan dilakukan oleh Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) dengan melibatkan sejumlah pihak, termasuk Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).
“Penanganan perkara ini masih berada pada tahap penyelidikan. Unit PPA Satreskrim Polres Kubu Raya bekerja sama dengan KPAI serta pihak terkait lainnya. Kami juga masih menunggu hasil visum dari rumah sakit sebagai bagian dari pengumpulan alat bukti,” terang Ade.
Ia menegaskan kepolisian berkomitmen menangani kasus tersebut secara profesional dan terbuka.
“Kami akan menangani perkara ini secara objektif dan transparan sehingga penyebab kematian korban dapat diketahui secara pasti,” tegasnya.
Hingga kini, keluarga masih menantikan hasil penyelidikan dari pihak kepolisian serta hasil pemeriksaan medis yang diharapkan dapat memberikan kejelasan mengenai penyebab kematian Zaki. []
Redaksi4
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan