Saudi Cs Bergerak, Trump Belum Teken Serangan ke Iran

WASHINGTON – Ketegangan di Timur Tengah memuncak, namun rencana serangan militer AS ke Iran nyaris ditunda setelah sejumlah negara termasuk Israel, Arab Saudi, Qatar, dan Oman membujuk Presiden Donald Trump agar menahan diri.

Jumat, 16 Januari 2026, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu disebut-sebut meminta Trump untuk menunda setiap aksi militer terhadap Iran. Seorang pejabat senior AS kepada New York Times menyampaikan, “Netanyahu menekankan bahwa serangan skala besar sekarang bisa memperburuk ketegangan dan merugikan semua pihak.”

Tak hanya Israel, Arab Saudi, Qatar, dan Oman juga bergerak diplomatis. Seorang pejabat senior Arab Saudi mengatakan kepada AFP, “Kami memimpin upaya mendesak agar Presiden Trump memberi Iran kesempatan untuk menunjukkan itikad baik. Serangan sekarang bisa memicu dampak buruk yang serius di kawasan ini.”

Seorang pejabat AS lain menambahkan kepada Wall Street Journal, “Trump disarankan untuk tidak melakukan serangan besar karena kemungkinan tidak akan menggulingkan rezim Iran dan justru memicu konflik lebih luas.”

Upaya diplomatik ini terjadi di tengah penarikan sebagian personel AS dari pangkalan udara Al-Udeid di Qatar dan pengiriman kapal induk dari Laut China Selatan ke Timur Tengah untuk memitigasi risiko serangan balasan dari Iran, termasuk terhadap pasukan AS dan Israel.

Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menegaskan, “Presiden Trump memperjelas bahwa semua opsi tetap terbuka untuk menghentikan pembantaian di Iran,” namun hingga kini belum ada keputusan final.

Seorang pejabat Teluk menambahkan, “Kami menyampaikan pesan tegas ke Iran: serangan terhadap fasilitas AS akan berdampak langsung pada hubungan dengan negara-negara kawasan.”

Situasi ini menjadi semakin menegangkan setelah Iran menangkap ribuan demonstran, memicu kekhawatiran internasional. Trump sendiri dilaporkan menerima jaminan dari “sumber-sumber penting” bahwa Iran tidak akan mengeksekusi para demonstran, sehingga serangan besar dapat ditunda untuk saat ini.

Diplomasi intensif Israel dan negara-negara Teluk tampak menjadi kunci meredakan krisis, setidaknya sementara, di kawasan yang rawan konflik. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com