Sejak 2016, Salman Setia Jual Pentol Bakar di Jalan Siti Asiyah

SAMARINDA – Di tengah persaingan kuliner jalanan yang semakin ketat, seorang pedagang kaki lima di Kota Samarinda tetap konsisten mempertahankan usahanya selama hampir satu dekade. Salman, pedagang pentol bakar di Jalan Siti Asiyah, masih setia berjualan sejak pertama kali membuka lapak pada tahun 2016.

Berlokasi di Jalan Siti Asiyah, Kelurahan Teluk Lerong, Kota Samarinda, lapak pentol bakar milik Salman dikenal ramai dikunjungi pembeli, terutama pada sore hingga malam hari. Lokasi yang strategis dan mudah dijangkau menjadi salah satu faktor pendukung keberlangsungan usahanya hingga kini.

Salman mengungkapkan, sejak awal berjualan ia memilih mempertahankan konsep sederhana dengan mengedepankan cita rasa dan harga terjangkau. Selain pentol bakar sebagai menu utama, ia juga menyediakan beragam pilihan lauk bakaran untuk menyesuaikan selera pelanggan.

“Jualan mulai di jalan Siti Asiyah kita ini mulai tahun 2016, selain pentol bakar, ada tahu, usus, telur puyuh dan hati ayam, untuk bumbu tersedia rasa kacang sama saus manis,” ujar Saman kepada media ini saat ditemui di Jalan Siti Asiyah, telok lerong, Samarinda, Rabu (28/01/2026).

Beragam menu tersebut disajikan dengan dua pilihan bumbu, yakni bumbu kacang dan saus manis. Variasi inilah yang membuat dagangan Salman diminati berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Dari sisi harga, Salman menerapkan tarif yang relatif ramah di kantong. Pentol bakar dan usus ayam dijual dengan harga Rp2.000 per tusuk. Bahkan, untuk menarik minat pembeli, ia menawarkan paket tiga tusuk pentol atau usus dengan harga Rp5.000. Sementara menu hati ayam dan telur puyuh dibanderol Rp5.000 per tusuk.

“Kalau untuk harga pentol dan usus bakar Rp2,000 dan di sini saya juga banting harga bisa 3 tusuk Rp5.000 untuk pentol dan usus, kalau hati ayam dan telur puyuh per tusuk Rp5.000,” kata pria yang hobi menggunakan topi ini.

Dalam kesehariannya, Salman membuka lapak mulai pukul 17.00 hingga 23.00 WITA. Ia berjualan setiap hari dari Senin hingga Minggu tanpa jadwal libur tetap. Namun, jika kondisi tubuh tidak memungkinkan, ia memilih untuk beristirahat sementara.

“Untuk jualan sendiri dari jam 05.00 sore sampai jam 11.00 malam, setiap hari terus Senin sampai Minggu pokoknya kalau capek libur,” tutur Salman.

Menariknya, seluruh pentol yang dijajakan Salman diproduksi secara mandiri. Ia membuat sendiri adonan pentol untuk memastikan kualitas dan cita rasa tetap terjaga. Dalam satu kali proses produksi, Salman menggunakan hingga 50 kilogram tepung.

“Pentolnya ini bikin sendiri semuanya dan sekali produksi pentol itu tepung sampai 50 kg untuk selama enam hari baru buat lagi,” ungkap Salman.

Hasil produksi tersebut mampu mencukupi kebutuhan penjualan selama kurang lebih enam hari. Setelah itu, ia kembali memproduksi pentol baru untuk menjaga kesegaran produk yang dijual.

Dengan ketekunan, konsistensi, serta strategi harga yang terjangkau, usaha pentol bakar Salman menjadi gambaran perjuangan pedagang kecil yang mampu bertahan dan tetap eksis di tengah dinamika ekonomi dan persaingan kuliner jalanan di Kota Samarinda. []

Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com