TEHERAN – Iran kembali menaikkan tensi militer di kawasan Timur Tengah dengan mengumumkan rencana latihan angkatan laut menggunakan amunisi tajam di perairan Selat Hormuz. Latihan tersebut akan berlangsung selama dua hari mulai Minggu (01/02/2026) dan digelar di sekitar area tempat kapal-kapal perang Amerika Serikat beroperasi.
Media internasional melaporkan bahwa latihan ini menjadi sinyal lanjutan dari sikap konfrontatif Teheran di tengah meningkatnya kehadiran militer AS di kawasan Teluk. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur laut strategis yang dilalui sebagian besar distribusi minyak dunia, sehingga setiap aktivitas militer di wilayah ini langsung menarik perhatian global.
Pengumuman Iran segera direspons oleh militer Amerika Serikat. Komando Pusat AS (CENTCOM) memperingatkan bahwa Washington tidak akan mentoleransi aktivitas yang dinilai berisiko terhadap keselamatan pasukannya maupun stabilitas kawasan.
“Setiap manuver yang tidak aman atau tidak profesional di sekitar pasukan Amerika, mitra regional, maupun kapal komersial berpotensi memicu eskalasi yang tidak diinginkan,” demikian pernyataan CENTCOM AS.
CENTCOM juga menegaskan bahwa Amerika Serikat memiliki kekuatan militer yang siap menghadapi segala kemungkinan. Mereka mendesak Iran untuk bertindak profesional dan mematuhi norma internasional yang berlaku di perairan internasional.
“Standar tersebut harus dijalankan oleh semua pihak tanpa pengecualian,” lanjut pernyataan itu, merujuk pada Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Ketegangan antara Teheran dan Washington memang terus meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Hubungan kedua negara memburuk setelah gelombang protes besar melanda Iran sejak akhir Desember, yang berujung bentrokan berdarah dan ribuan korban jiwa.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump sebelumnya menyatakan akan mendukung rakyat Iran untuk menghentikan kekerasan yang dilakukan aparat keamanan. Sebagai bagian dari tekanan politik dan militer, Washington mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke Timur Tengah, disusul oleh sejumlah kapal perang dan jet tempur tambahan.
Belakangan, isu nuklir kembali menjadi pusat ketegangan. Trump memberi tenggat waktu kepada Teheran agar segera menyepakati pembatasan program nuklir sesuai tuntutan AS. Pemerintah Iran menolak tekanan tersebut dan bersikeras bahwa program nuklir serta pengembangan rudal balistiknya ditujukan untuk kepentingan sipil.
Latihan tembak dengan amunisi asli ini menjadi lanjutan dari serangkaian manuver militer Iran di Selat Hormuz. Pada akhir Januari lalu, Teheran lebih dulu menggelar latihan angkatan udara di kawasan yang sama sebagai bentuk unjuk kekuatan terhadap kehadiran militer Amerika Serikat.
Pengamat menilai latihan terbaru ini bukan sekadar kegiatan rutin militer, melainkan pesan politik terbuka Iran bahwa mereka siap mempertahankan kepentingannya di jalur laut paling vital dunia, meski berisiko memperdalam konfrontasi dengan Washington. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan