Serangan rudal terhadap kapal ADNOC dan laporan tanker terbakar memperbesar kekhawatiran terhadap keamanan Selat Hormuz sebagai salah satu jalur utama perdagangan energi dunia.
TEHERAN – Ancaman terhadap pelayaran dan jalur energi di Selat Hormuz kembali meningkat setelah Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC) mengonfirmasi salah satu kapalnya menjadi sasaran serangan rudal saat melintasi selat strategis tersebut, Sabtu (08/08/2026). Pada hari yang sama, media Iran melaporkan sebuah kapal yang diduga tanker minyak terbakar di koridor selatan Selat Hormuz.
ADNOC menyatakan serangan terjadi pada Sabtu dini hari. Tidak ada korban luka dalam insiden tersebut dan situasi dilaporkan telah berhasil dikendalikan. Namun, perusahaan belum memerinci identitas kapal, muatan, maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Insiden itu menambah kekhawatiran terhadap keamanan pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting pengiriman minyak dan gas dari kawasan Teluk menuju pasar internasional. Sebelum konflik terbaru, sekitar seperlima minyak dan gas alam cair dunia melintasi jalur sempit antara Iran dan Oman tersebut.
Sebelumnya, kantor berita semi-pemerintah Iran, Fars News Agency, melaporkan pemantauan satelit menunjukkan sebuah kapal yang diyakini sebagai tanker minyak terbakar di jalur selatan Selat Hormuz. Sebuah kapal pemadam kebakaran dan penanganan tumpahan minyak, ADNOC AR01, kemudian tiba di lokasi.
Laporan mengenai kebakaran kapal tersebut, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Sabtu, (08/08/2026), muncul di tengah belum pulihnya stabilitas keamanan maritim di kawasan Teluk.
Ketegangan regional meningkat sejak serangan bersama Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap sejumlah fasilitas militer, nuklir, dan infrastruktur energi Iran pada 28 Februari 2026. Iran kemudian membalas dengan serangan rudal dan pesawat nirawak terhadap sejumlah sasaran AS dan Israel di kawasan.
Iran dan AS selanjutnya menandatangani Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) melalui mediasi Pakistan dan Qatar pada 18 Juni 2026 untuk menghentikan kontak senjata aktif dan membuka negosiasi menuju kesepakatan lanjutan. Namun, perundingan kemudian tersendat akibat perselisihan mengenai keamanan maritim dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Serangkaian gangguan terhadap kapal yang melintasi Hormuz telah meningkatkan risiko bagi pelayaran komersial. ADNOC bahkan menyatakan 15 kapalnya telah menjadi sasaran rudal maupun pesawat nirawak sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, dengan satu awak kapal meninggal dunia dan 20 lainnya terluka dalam berbagai insiden.
Kembali terjadinya serangan terhadap kapal di Selat Hormuz menunjukkan keamanan jalur pelayaran tersebut masih menjadi salah satu titik krusial dalam ketegangan kawasan. Berlanjutnya gangguan berpotensi tidak hanya memengaruhi keselamatan pelayaran, tetapi juga meningkatkan ketidakpastian distribusi energi dan perdagangan internasional yang bergantung pada jalur tersebut. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan