WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan sedang meminta persetujuan Kongres untuk menjual peralatan militer dan persenjataan senilai US$6,4 miliar (Rp106 triliun) kepada Israel. Rencana ini mencakup helikopter serang, kendaraan pengangkut pasukan, dan sejumlah komponen pendukung bagi operasi militer Israel.
Menurut sumber yang dikutip Reuters, paket penjualan senjata ini terdiri atas kesepakatan senilai US$3,8 miliar untuk 30 helikopter serang AH-64 Apache serta US$1,9 miliar untuk 3.250 kendaraan tempur infanteri. Selain itu, AS juga diperkirakan menjual komponen pendukung perang senilai US$750 juta, termasuk suku cadang untuk kendaraan lapis baja pengangkut personel dan pasokan daya untuk operasi militer Israel. The Wall Street Journal turut melaporkan kemungkinan transaksi senjata ini pada Jumat (19/09/2025).
Upaya penjualan senjata ini muncul di tengah sorotan internasional atas agresi militer Israel di Jalur Gaza Palestina sejak Oktober 2023. Laporan PBB menyebut agresi tersebut sebagai kejahatan perang dengan indikasi genosida, yang memicu kecaman global.
Militer Israel pada hari yang sama menyatakan telah memperluas operasi darat di Kota Gaza, meski menghadapi tekanan internasional yang kian meningkat, termasuk dari Dewan Keamanan PBB. Al Jazeera melaporkan bahwa operasi darat terbaru ini merupakan yang tersebar luas sejak dimulainya agresi, memaksa puluhan ribu warga Palestina mengungsi. Banyak warga menyatakan mereka tidak memiliki jalur aman untuk melarikan diri dari serangan militer.
Gedung Putih hingga saat ini belum memberikan tanggapan resmi terkait laporan penjualan senjata ini, sementara rencana itu memicu debat panas di Kongres. Sejumlah anggota Senat dari Partai Demokrat menolak penjualan senjata tambahan dan mendorong pengakuan resmi terhadap negara Palestina. Sehari sebelumnya, sekelompok senator AS mengajukan resolusi pertama di Senat yang menyerukan pengakuan negara Palestina.
Rencana penjualan senjata AS ke Israel juga muncul hanya beberapa hari sebelum Sidang Majelis Umum PBB ke-80 di New York. Sidang tersebut akan membahas isu global termasuk situasi kemanusiaan di Gaza, dan akan diwarnai pertemuan tingkat tinggi Dewan Keamanan PBB. Selain itu, beberapa negara seperti Prancis, Arab Saudi, Inggris, Kanada, dan Australia akan mengadakan pertemuan terkait solusi dua negara, termasuk langkah-langkah pengakuan terhadap Palestina.
Situasi ini menunjukkan adanya ketegangan antara kebijakan luar negeri AS di era Trump dengan meningkatnya keraguan di kalangan Partai Demokrat terhadap Israel. Dukungan kuat Trump terhadap Tel Aviv berbanding terbalik dengan sikap sebagian anggota Kongres yang kini menuntut peninjauan ulang kebijakan bantuan militer.
Para pengamat menilai, keputusan Trump ini akan menimbulkan implikasi geopolitik signifikan, termasuk ketegangan di Timur Tengah dan potensi memengaruhi posisi diplomatik AS di forum internasional. Penjualan alutsista dalam skala besar ini juga dianggap sebagai sinyal dukungan Amerika yang tetap solid kepada Israel meski tekanan internasional terus meningkat.
Dengan situasi yang semakin kompleks di Gaza dan tekanan global yang meningkat, langkah Trump untuk tetap memprioritaskan dukungan militer ke Israel menunjukkan bagaimana kepentingan strategis AS tetap dipertahankan, bahkan di tengah kecaman dan kontroversi global. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan