TEL AVIV — Israel mematikan jam penanda agresi militernya ke Jalur Gaza yang selama ini berdiri di sebuah alun-alun ibu kota. Jam tersebut dimatikan setelah mencatat 844 hari atau sekitar dua setengah tahun sejak operasi militer Israel di wilayah Palestina itu dimulai.
Pemadaman jam tersebut dijadikan simbol berakhirnya fase agresi total Israel ke Gaza. Namun, langkah ini tetap dibayangi keraguan, mengingat catatan panjang pelanggaran gencatan senjata yang kerap terjadi sepanjang konflik Israel–Palestina.
Penutupan jam agresi dilakukan bertepatan dengan pengembalian jenazah sandera Israel terakhir yang berada di Gaza. Jenazah tersebut diketahui milik Ran Gvil, seorang petugas kepolisian Israel yang tewas dan disandera sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, peristiwa yang memicu serangan besar-besaran Israel ke Jalur Gaza.
Pada hari serangan tersebut, Ran Gvil dilaporkan sempat melakukan perlawanan terhadap kelompok bersenjata Hamas sebelum akhirnya tewas. Jenazahnya kemudian dibawa ke Gaza dan dijadikan sandera hingga proses pemulangan yang terjadi pada Selasa (27/01/2026).
“Kami akhirnya bisa menutup luka panjang ini. Ran kembali sebagai sosok yang mempertahankan negaranya hingga akhir,” ujar ibu Ran Gvil dalam pernyataan emosional yang disampaikan kepada media internasional.
Pemadaman jam agresi tersebut direncanakan berlangsung dalam sebuah upacara khusus pada Selasa malam waktu setempat. Acara ini disebut akan dihadiri para mantan sandera yang berhasil dibebaskan, keluarga sandera, serta kerabat Ran Gvil, termasuk Shira, anggota keluarganya yang selama ini aktif menyuarakan nasib para sandera.
Pengembalian jenazah Ran Gvil sekaligus menandai rampungnya fase awal gencatan senjata Israel–Hamas yang dimediasi Amerika Serikat. Tahapan ini menjadi prasyarat untuk memasuki fase lanjutan yang mencakup kesepakatan politik dan kemanusiaan lebih luas.
Penyerahan seluruh sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia, merupakan bagian dari komitmen fase pertama gencatan senjata yang diusulkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Fase berikutnya masih akan diuji oleh dinamika politik dan situasi keamanan di lapangan.
Meski simbol perang telah dimatikan, masa depan gencatan senjata di Gaza tetap menjadi sorotan dunia internasional. Banyak pihak menilai, penghentian jam hanyalah awal, sementara ujian sesungguhnya terletak pada konsistensi penghentian kekerasan di wilayah konflik tersebut. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan