TANA TIDUNG — Keterbatasan sarana dan prasarana pemadaman kebakaran berbahan bakar minyak (BBM) masih menjadi persoalan serius di Kabupaten Tana Tidung. Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) setempat mengakui hingga kini belum memiliki cairan foam pemadam yang direkomendasikan dalam standar operasional prosedur (SOP) untuk menangani kebakaran jenis tersebut.
Kondisi ini dinilai berisiko, mengingat potensi kebakaran akibat BBM tetap dapat terjadi kapan saja, terutama di wilayah yang masih banyak menjual BBM secara eceran. Tanpa peralatan khusus, petugas pemadam terpaksa mengandalkan metode alternatif untuk mengendalikan api.
Kasubid Pencegahan dan Inspeksi DPKP Tana Tidung, Murjani, menjelaskan bahwa secara teknis kebakaran yang melibatkan BBM seharusnya ditangani menggunakan foam atau cairan pemadam khusus yang mampu memutus reaksi api pada bahan bakar cair.
Menurutnya, penggunaan air secara langsung justru berbahaya karena dapat menyebabkan api menyebar mengikuti aliran BBM. Ia menegaskan, pemadaman jenis ini memerlukan pendekatan berbeda dibandingkan kebakaran biasa.
Namun, keterbatasan anggaran menjadi alasan utama belum tersedianya foam pemadam di lingkungan DPKP Tana Tidung. Murjani menyebut harga cairan tersebut tergolong tinggi dan memiliki masa simpan yang relatif singkat.
Ia memaparkan bahwa satu jerigen foam berkapasitas sekitar 20 liter bisa menelan biaya hingga puluhan juta rupiah. Di sisi lain, frekuensi kebakaran BBM di Tana Tidung masih tergolong rendah, sehingga pengadaan dianggap belum efisien secara anggaran.
“Jika disimpan terlalu lama dan tidak digunakan, cairan itu akan kedaluwarsa. Dari sisi anggaran tentu menjadi pemborosan,” ujarnya dengan nada mempertimbangkan aspek efektivitas belanja daerah, Jum’at (02/01/2025).
Sebagai solusi sementara, DPKP Tana Tidung mengandalkan cara-cara alternatif untuk memadamkan api berbahan bakar cair. Salah satunya adalah mencampurkan detergen dengan air untuk menghasilkan busa sederhana yang dapat membantu mengurai lapisan BBM.
Murjani menjelaskan bahwa busa dari detergen cukup membantu menekan api karena mampu memecah unsur minyak, meski efektivitasnya tidak sebanding dengan foam standar pemadam kebakaran.
Selain itu, pasir kering dinilai menjadi metode paling aman dan efektif untuk kebakaran BBM skala kecil hingga menengah. Pasir dapat menutup sumber api dan menghentikan suplai oksigen, sehingga api cepat padam.
DPKP Tana Tidung pun telah mengimbau para penjual BBM eceran agar menyediakan pasir kering sebagai langkah mitigasi awal apabila terjadi kebakaran. Upaya ini dianggap penting untuk menekan risiko sebelum petugas pemadam tiba di lokasi.
Belum lama ini, kebakaran yang diduga dipicu tumpukan BBM terjadi tidak jauh dari Markas Komando DPKP Tana Tidung. Dalam peristiwa tersebut, petugas menggunakan campuran detergen dan air untuk memadamkan api, yang akhirnya berhasil dikendalikan dalam waktu kurang dari satu jam.
Kondisi ini menjadi pengingat bahwa peningkatan kesiapsiagaan dan dukungan peralatan pemadam kebakaran masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah daerah, terutama untuk menghadapi kebakaran berisiko tinggi seperti yang melibatkan BBM. []
Admin04
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan