Tak Kunjung Diperbaiki, Jalan Perbatasan Ditangani Warga

NUNUKAN – Keterbatasan akses infrastruktur kembali menjadi persoalan di wilayah perbatasan. Di Kecamatan Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, masyarakat terpaksa mengambil langkah mandiri dengan memperbaiki jalan rusak menggunakan kayu keras. Aksi gotong royong tersebut dilakukan karena perbaikan jalan yang diharapkan dari pemerintah tak kunjung terealisasi.

Inisiatif warga ini mencerminkan keputusasaan sekaligus daya juang masyarakat perbatasan yang selama ini bergantung pada akses jalan darat untuk aktivitas ekonomi dan sosial. Kayu keras dipilih sebagai material utama karena dinilai lebih kuat dan tahan lama dibanding metode penimbunan tanah yang selama ini diterapkan.

Camat Krayan Timur, Lian Toni, membenarkan langkah swadaya yang dilakukan warga. Ia menilai penggunaan kayu merupakan solusi paling realistis dalam kondisi keterbatasan saat ini. “Kalau hanya ditimbun tanah, kerusakannya cepat terulang. Kayu justru lebih mampu menahan beban dan cuaca, sehingga bisa dipakai lebih lama,” kata Lian saat dikonfirmasi Rabu (14/01/2026).

Menurutnya, pola pemeliharaan jalan konvensional selama ini belum mampu menjawab tantangan geografis Krayan Timur yang memiliki curah hujan tinggi dan kontur tanah labil. “Setiap kali selesai diperbaiki, tidak butuh waktu lama jalannya kembali rusak. Itu yang membuat warga memilih alternatif lain,” ungkapnya.

Lian menjelaskan, ruas jalan yang diperbaiki secara swadaya tersebut merupakan kewenangan pemerintah kabupaten. Panjang jalan yang telah ditangani warga diperkirakan mencapai sekitar 500 meter, dimulai dari kawasan Gunung hingga titik-titik terparah.

Meski tidak menyebutkan jenis kayu secara rinci, Lian memastikan material yang digunakan merupakan kayu keras yang diperoleh secara swadaya dan dipasang melalui kerja gotong royong. “Masyarakat memilih bergerak sendiri. Walaupun belum ada respons konkret, mereka tidak ingin akses jalan ini terus dibiarkan rusak,” tegasnya.

Langkah warga Krayan Timur ini kembali menyoroti ketimpangan pembangunan infrastruktur di wilayah perbatasan, sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa masyarakat tidak bisa terus menunggu tanpa kepastian. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com