Tak Lagi Direbus Hidup, Lobster Dapat Perlindungan Negara

LONDON – Langkah Pemerintah Inggris untuk melarang praktik merebus lobster dan kepiting hidup-hidup menandai perubahan besar dalam cara negara tersebut memandang kesejahteraan hewan laut. Kebijakan ini tidak hanya menyentuh persoalan etika, tetapi juga berpotensi mengguncang kebiasaan lama industri makanan laut yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Larangan tersebut tercantum dalam strategi kesejahteraan hewan terbaru yang diterbitkan pada Senin 22 Desember 2025. Pemerintah Inggris menegaskan bahwa praktik perebusan krustasea hidup-hidup tidak lagi dapat ditoleransi, seiring meningkatnya bukti ilmiah mengenai kemampuan hewan-hewan tersebut merasakan sakit. Kebijakan ini merupakan kelanjutan dari keputusan penting pada 2022, ketika Inggris secara resmi mengakui krustasea dekapoda dan moluska sefalopoda sebagai makhluk hidup yang memiliki kesadaran.

Dalam dokumen strategi tersebut, pemerintah menyoroti masih adanya celah besar dalam pemahaman mengenai perjalanan hewan laut dari tahap penangkapan hingga pembunuhan. Ketidakjelasan ini dinilai menyulitkan upaya mencegah “rasa sakit atau penderitaan yang tidak perlu.”

Oleh karena itu, pemerintah berencana menerbitkan panduan metode pembunuhan yang dianggap lebih manusiawi bagi dekapoda. Salah satu poin paling tegas dalam dokumen itu adalah pernyataan bahwa “perebusan hidup-hidup tidak dapat diterima.” Sebagai alternatif, pembekuan atau penggunaan aliran listrik disarankan sebagai metode yang dinilai lebih beradab.

Praktik merebus lobster dan kepiting hidup-hidup telah mengakar sejak abad ke-18 dan ke-19, ketika konsumsi krustasea meningkat di Eropa dan Amerika Utara. Pada masa itu, hewan-hewan tersebut dianggap tidak mampu merasakan sakit. Namun, pandangan ini kini dipatahkan oleh riset ilmiah modern. Tekanan terhadap pemerintah pun semakin kuat dari kelompok advokasi kesejahteraan hewan.

“Kepiting, lobster, dan udang mengalami penderitaan yang tak terbayangkan, termasuk salah satu bentuk kematian yang paling menyakitkan: direbus hidup-hidup,” ungkap Crustacean Compassion, badan amal kesejahteraan hewan di Inggris, Selasa (23/12/2025).

Lembaga tersebut menambahkan bahwa hewan-hewan ini dapat merasakan sakit hebat hingga tiga menit sebelum mati, dan selama bertahun-tahun mereka mendesak penghentian praktik yang disebut sebagai “barbar”.

Di sisi lain, industri makanan laut menyuarakan kekhawatiran serius. Asosiasi Kerang Britania Raya menilai perubahan kebijakan ini tidak sesederhana persoalan moral. “Jika seseorang ingin membeli kepiting atau lobster hidup, mereka tidak akan membayarnya jika sudah mati,” ujar asosiasi tersebut kepada Daily Mail. Menurut mereka, terdapat insentif kuat di sepanjang rantai pasokan untuk menjaga hewan tetap hidup demi kualitas dan harga jual yang lebih tinggi.

Asosiasi itu juga memperingatkan bahwa biaya alat pemingsan yang manusiawi, yang mencapai sekitar USD4.700, dapat menjadi beban berat bagi restoran dan hotel. Kondisi ini dikhawatirkan mendorong pelaku usaha beralih mengimpor makanan laut beku dari luar negeri, yang justru berpotensi merugikan nelayan dan pemasok lokal.

Kebijakan ini memperlihatkan dilema klasik antara etika dan ekonomi. Inggris kini berada di persimpangan antara mempertahankan tradisi industri atau mengambil langkah tegas demi kesejahteraan hewan, dengan konsekuensi yang luas bagi pasar dan konsumen. []

Admin04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com