Tanpa Pengawet, Kerupuk Udang Sepatin Jaga Rasa Tradisional

KUTAI KARTANEGARA – Di tengah maraknya produk makanan instan dan kerupuk dengan berbagai campuran bahan tambahan, kerupuk udang khas Desa Sepatin, Kabupaten Kutai Kartanegara, justru hadir dengan konsep yang sederhana dan alami. Usaha rumahan yang kini dikelola oleh Erika Yulanda ini memilih bertahan dengan cara berlawanan arus pasar: mengandalkan bahan baku murni tanpa campuran air dan tanpa bahan pengawet.

Usaha kerupuk udang tersebut pertama kali dirintis pada tahun 2020 oleh orang tua Erika. Berangkat dari keinginan memanfaatkan hasil laut yang melimpah di Desa Sepatin, keluarga ini mulai memproduksi kerupuk udang dengan bahan utama udang segar yang diperoleh langsung dari nelayan setempat. Setelah orang tuanya tidak lagi aktif mengelola usaha, Erika Yulanda melanjutkan usaha keluarga tersebut dengan komitmen yang sama, yakni menjaga kualitas dan keaslian rasa.

“Keunggulan kerupuk udang kami ada pada bahan bakunya. Udang segar langsung dari nelayan Desa Sepatin, tidak dicampur air, dan benar-benar tanpa pengawet,” ujar Erika Yulanda saat diwawancarai di Sepatin, Kamis (05/02/2026).

Berbeda dengan kerupuk udang pada umumnya yang cenderung menggunakan campuran tepung lebih dominan, kerupuk udang khas Sepatin ini mengandalkan kandungan udang yang tinggi. Hal tersebut menghasilkan tekstur kerupuk yang lebih padat, aroma udang yang kuat, serta rasa gurih alami tanpa tambahan penyedap buatan. Konsistensi pada kualitas inilah yang membuat produk ini memiliki penggemar tersendiri.

Selain menjadi sumber penghasilan keluarga, usaha ini juga berperan dalam menggerakkan roda perekonomian desa. Bahan baku udang diperoleh langsung dari nelayan lokal Desa Sepatin, sehingga usaha kerupuk udang ini menjadi bagian dari mata rantai ekonomi masyarakat pesisir. Namun, ketergantungan pada hasil tangkapan nelayan juga menjadi tantangan tersendiri bagi kelangsungan produksi.

Dalam satu bulan, produksi kerupuk udang mencapai sekitar 30 kilogram, meskipun jumlah tersebut tidak selalu stabil.

“Tergantung bahan baku. Kadang-kadang nelayan sulit mendapatkan udang karena cuaca dan hasil tangkapan yang tidak tercapai,” jelas Erika.

Kondisi tersebut membuat Erika tidak memaksakan produksi. Ia memilih tetap menjaga kualitas bahan baku meski harus menyesuaikan jumlah produksi dengan ketersediaan udang segar.

Dari sisi pemasaran, kerupuk udang khas Sepatin masih menghadapi keterbatasan. Saat ini, pemasaran produk masih terbatas antarwilayah dan belum menjangkau pasar yang lebih luas. Meski demikian, produk ini tetap memiliki pelanggan setia, terutama konsumen yang mengutamakan kerupuk udang asli tanpa bahan pengawet.

Kerupuk udang dipasarkan dalam berbagai ukuran kemasan, mulai dari 1 ons seharga Rp10.000, 2,5 ons Rp25.000, ½ kilogram Rp50.000, hingga 8 ons Rp80.000. Untuk pembelian dalam jumlah besar, harga per kilogram dibanderol Rp100.000.

Dengan skala usaha yang masih terbatas, Erika mengaku memperoleh omzet bersih sekitar Rp2 juta per bulan. Meski terbilang sederhana, pendapatan tersebut cukup untuk menjaga keberlangsungan usaha keluarga sekaligus menjadi motivasi untuk terus berkembang.

Ke depan, Erika berharap dapat memperluas jaringan pemasaran dan meningkatkan kapasitas produksi tanpa mengorbankan kualitas produk.

“Saya ingin usaha ini berkembang, namun tetap mempertahankan ciri khasnya,” tutupnya.

Usaha kerupuk udang khas Desa Sepatin ini tidak hanya menjadi aktivitas ekonomi, tetapi juga upaya menjaga warisan rasa tradisional, memberdayakan nelayan lokal, serta membuktikan bahwa produk berbahan alami masih mampu bertahan dan bersaing di tengah pasar modern. []

Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com