Tarakan Darurat Kewaspadaan, Ratusan Bencana Terjadi dalam Setahun

TARAKAN – Tahun 2025 menjadi periode penuh peringatan bagi Kota Tarakan. Sepanjang tahun tersebut, ratusan peristiwa bencana tercatat terjadi dan meninggalkan dampak nyata bagi keselamatan warga. Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tarakan mencatat sedikitnya 329 kejadian bencana melanda berbagai wilayah kota.

Dari ratusan peristiwa itu, dua nyawa melayang. Masing-masing korban meninggal dunia akibat kebakaran dan tanah longsor yang terjadi di lokasi berbeda.

Sekretaris BPBD Tarakan, Totok Murhanto, mengungkapkan bahwa korban jiwa berasal dari kawasan Karang Harapan dan Kampung Bugis. “Satu korban meninggal dunia akibat kebakaran di Karang Harapan, sementara satu korban lainnya akibat tanah longsor di Kampung Bugis,” kata Totok, Kamis (08/01/2026).

Selain korban jiwa, bencana sepanjang 2025 juga berdampak pada ratusan warga. BPBD mencatat sebanyak 732 orang terdampak langsung, sementara 25 warga lainnya terpaksa mengungsi demi keselamatan.

Berdasarkan data BPBD, gempa bumi yang terjadi pada November 2025 menjadi peristiwa dengan dampak terbesar, dengan jumlah warga terdampak mencapai 378 jiwa. Setelah itu, tanah longsor dan cuaca ekstrem menjadi penyumbang terbesar kejadian bencana di Tarakan.

Cuaca ekstrem tercatat sebagai bencana paling dominan dengan 114 kejadian sepanjang tahun. Tanah longsor menyusul dengan 64 kejadian. Sementara kebakaran hutan dan lahan tercatat 15 kejadian, dan banjir hanya terjadi tiga kali.

Totok menjelaskan, lokasi-lokasi bencana tersebut umumnya berada di wilayah rawan yang sejak lama telah terpetakan oleh BPBD. “Kejadian longsor masih terkonsentrasi di kawasan yang sama, seperti Kampung Bugis, Gunung Lingkas, dan Juwata Permai. Tidak ada titik baru yang signifikan,” jelasnya.

Adapun banjir di Tarakan, lanjut Totok, lebih sering berupa genangan air yang dipicu oleh pasang air laut. Kondisi tersebut menghambat aliran air hujan, sehingga menyebabkan genangan di sejumlah kawasan, seperti Karanganyar dan Gunung Lingkas, meskipun tidak masuk kategori banjir besar.

BPBD Tarakan mengklaim telah melakukan berbagai upaya mitigasi untuk menekan risiko bencana. Upaya tersebut meliputi sosialisasi kebencanaan, pemasangan rambu peringatan di wilayah rawan, serta pelibatan aktif masyarakat dan kelurahan setempat. “Upaya pencegahan terus kami lakukan, termasuk memasang rambu peringatan dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar lebih waspada,” ujar Totok.

Untuk kebakaran hutan dan lahan, BPBD menilai kondisi pada 2025 relatif lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dinilai tidak lepas dari meningkatnya kesadaran masyarakat serta dukungan berbagai pihak, termasuk sektor swasta.

Meski demikian, BPBD mengingatkan warga agar tetap waspada, terutama menghadapi potensi cuaca ekstrem yang diperkirakan masih berlanjut. Warga yang bermukim di daerah rawan longsor dan angin kencang diminta meningkatkan kewaspadaan demi menghindari jatuhnya korban baru. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com