Teror Molotov Guncang SMP di Kalbar, Sekolah Tutup Sementara

KUBU RAYA — Suasana belajar di SMP Negeri 3 Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, mendadak berubah mencekam setelah aksi pelemparan bom molotov terjadi di lingkungan sekolah, Selasa 3 Februari 2026 siang. Insiden ini memaksa pihak sekolah menghentikan sementara pembelajaran tatap muka dan mengalihkan kegiatan belajar ke sistem daring.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 10.40 WIB, saat proses belajar mengajar masih berlangsung. Aparat kepolisian memastikan terduga pelaku telah diamankan dan diketahui masih berstatus sebagai siswa di sekolah tersebut.

Sebagai langkah pengamanan, manajemen sekolah memutuskan memberlakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama beberapa hari ke depan. Kebijakan ini diambil untuk meredam kekhawatiran yang masih dirasakan siswa, guru, dan orang tua.

Kepala Sekolah SMPN 3 Sungai Raya, Lily, mengatakan keputusan tersebut diambil demi menjaga kondisi psikologis seluruh warga sekolah.

“Kami memilih pembelajaran dari rumah karena suasana di sekolah masih diliputi rasa cemas. Ini langkah sementara sambil menunggu situasi benar-benar kondusif,” ujarnya, Rabu (04/02/2026).

Menurut Lily, ledakan dari bom molotov terdengar beberapa kali dan langsung memicu kepanikan massal.

“Setidaknya terdengar beberapa kali ledakan. Anak-anak dan guru panik karena kejadian itu berlangsung saat jam pelajaran,” katanya.

Akibat insiden tersebut, satu siswa dilaporkan mengalami luka ringan setelah menginjak serpihan paku saat berusaha menyelamatkan diri.

“Korban sudah mendapat penanganan medis dan diperbolehkan pulang. Semua siswa kami pulangkan sebagai langkah antisipasi,” jelas Lily.

Sementara itu, Kepolisian Daerah Kalimantan Barat menyebutkan bahwa hasil pendalaman awal mengarah pada adanya tekanan psikologis berat yang dialami terduga pelaku. Kapolda Kalbar Irjen Pipit Rismanto menyatakan, secara keseharian di sekolah, siswa tersebut tidak menunjukkan perilaku mencurigakan.

“Dari pengamatan di sekolah, anak ini terlihat normal. Namun ada tekanan mental serius yang diduga bersumber dari persoalan keluarga,” kata Pipit.

Ia menjelaskan bahwa kondisi kesehatan anggota keluarga terdekat, termasuk ayah dan kakek terduga pelaku, diduga memberi beban psikologis yang cukup berat.

“Masalah di rumah menjadi faktor yang perlu kami dalami karena sangat berpengaruh pada kondisi kejiwaan anak,” ujarnya.

Selain faktor keluarga, aparat juga menelusuri informasi yang beredar di masyarakat terkait dugaan perundungan di lingkungan sekolah. Seorang warga yang memiliki kerabat bersekolah di SMP tersebut menyebutkan adanya cerita bahwa pelaku kerap menjadi sasaran bully.

“Saya dengar dari keluarga yang sekolah di sana, katanya anak itu sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari teman-temannya. Diduga ini jadi pelampiasan,” tutur warga tersebut.

Meski demikian, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kubu Raya belum memberikan kesimpulan terkait dugaan perundungan. Kepala Disdikbud Kubu Raya, Syarif Muhammad Firdaus Alkadrie, menegaskan pihaknya menunggu hasil penyelidikan resmi kepolisian.

“Untuk dugaan lain di luar fakta hukum, kami serahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum,” katanya.

Kepolisian menegaskan penanganan kasus ini tidak hanya berfokus pada aspek pidana, tetapi juga pada pembinaan dan pemulihan psikologis, mengingat pelaku masih di bawah umur. Proses penyelidikan masih terus berjalan untuk mengungkap motif dan rangkaian peristiwa secara utuh. []

Admin04

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com