KUTAI TIMUR – Insiden kecelakaan kerja kembali menyorot aspek keselamatan di kawasan pertambangan. Seorang karyawan PT Kaltim Prima Coal (KPC) dilaporkan meninggal dunia setelah kendaraan yang ditumpanginya terseret arus air dan masuk ke kolam tambang, Sabtu (10/01/2026) malam.
Korban diketahui bernama Eko Hadi, sementara satu rekan kerjanya, Abdullah, berhasil menyelamatkan diri dari peristiwa tersebut. Kejadian nahas itu berlangsung sekitar pukul 23.00 Wita di jalur tambang internal perusahaan.
Informasi yang diperoleh menyebutkan, saat kejadian Eko Hadi tengah mengantar meal box dari Widura Fuel Station menuju Arjuna Fuel Station. Kendaraan yang dikemudikannya melintasi jalur alternatif dari Inul Middle menuju IGS dengan kondisi cuaca dan debit air yang diduga tinggi.
Di tengah perjalanan, mobil tersebut kehilangan kendali setelah terseret arus hingga akhirnya masuk ke kolam tambang. Kedua pekerja sempat keluar melalui jendela sisi kiri kendaraan dan berusaha berenang menuju tepi. Abdullah berhasil mencapai daratan, sementara Eko Hadi diduga tidak mampu melawan derasnya arus.
Upaya pencarian langsung dilakukan setelah insiden terjadi. Korban sempat dinyatakan hilang sebelum akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa keesokan harinya.
General Manager External Affairs and Sustainable Development (ESD) PT KPC, Wawan Setiawan, membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyampaikan bahwa korban ditemukan pada Minggu (11/01/2026) pagi sekitar pukul 07.30 Wita.
“Di dalam kendaraan terdapat dua orang. Saat melintas, mobil terseret aliran air. Satu pekerja berhasil menyelamatkan diri, sementara satu lainnya sempat dinyatakan hilang dan kemudian ditemukan,” ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (12/01/2026).
Terkait penanganan pascakejadian, manajemen KPC menyatakan akan menjalankan seluruh kewajiban perusahaan terhadap korban dan keluarganya sesuai ketentuan yang berlaku. “Perusahaan akan memberikan pendampingan kepada keluarga korban serta memastikan seluruh hak ketenagakerjaan dipenuhi,” kata Wawan.
Namun hingga kini, penyebab pasti insiden tersebut belum dapat dipastikan. Pihak perusahaan menyebut masih menunggu hasil investigasi dari tim internal bersama inspektur tambang untuk memastikan apakah kejadian itu murni kecelakaan atau dipicu faktor kelalaian tertentu. “Biarkan tim investigasi bekerja untuk mengkaji secara menyeluruh faktor penyebab kejadian ini, agar ke depan dapat dicegah hal serupa,” tambahnya.
Insiden ini kembali menjadi pengingat pentingnya evaluasi jalur operasional, manajemen risiko, serta kewaspadaan terhadap kondisi cuaca dan lingkungan kerja di area pertambangan. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan