Trump Panaskan Panggung Dunia, NATO Mulai Gelisah

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali memicu kegemparan global. Di tengah sorotan dunia atas rangkaian manuver politik dan militernya, Trump secara terbuka menyampaikan pandangan yang dinilai menantang tatanan internasional: hukum global bukanlah penghalang utama bagi langkahnya sebagai pemimpin negara adidaya.

Pernyataan kontroversial itu disampaikan Trump dalam wawancara eksklusif dengan New York Times (NYT) yang dipublikasikan Rabu (07/01/2025) waktu setempat dan dikutip Anadolu Agency serta Japan Times, Jumat (09/01/2025). Dalam wawancara tersebut, Trump menegaskan bahwa satu-satunya faktor yang dapat membatasi dirinya bukanlah hukum internasional, melainkan pertimbangan moral pribadinya.

Trump menilai kendali atas tindakannya sepenuhnya berada di tangannya sendiri. Ia menyebut bahwa keputusan-keputusan besar yang diambilnya lahir dari keyakinan personal, bukan tekanan aturan global. “Yang membatasi saya hanyalah penilaian moral dan pikiran saya sendiri,” ujarnya dalam wawancara itu.

Pernyataan tersebut muncul di tengah kritik keras terhadap kebijakan luar negeri AS dalam beberapa waktu terakhir. Pemerintahan Trump tercatat terlibat dalam serangkaian aksi militer kontroversial, mulai dari kerja sama dengan Israel dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran saat konflik bersenjata tahun lalu, hingga operasi besar-besaran untuk menekan Venezuela yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.

Gelombang kritik semakin menguat setelah Trump secara terbuka menyampaikan ambisinya untuk mengambil alih Greenland dari Denmark. Bahkan, ia tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer demi mewujudkan rencana tersebut.

Langkah-langkah itu memicu kegelisahan di Eropa, khususnya di kalangan negara-negara anggota NATO. Sejumlah pemimpin Eropa secara terbuka memperingatkan Washington agar tidak melangkah terlalu jauh dan mengabaikan konsensus internasional.

Menanggapi pertanyaan NYT mengenai batas kekuasaan global yang dimilikinya sebagai Presiden AS, Trump kembali menekankan bahwa kendali tersebut bersifat personal. Ia menyampaikan bahwa keputusan tertingginya tidak ditentukan oleh teks hukum internasional. “Saya tidak merasa terikat oleh hukum internasional,” katanya dengan nada tegas.

Meski demikian, Trump berusaha meredam kekhawatiran dengan menyatakan bahwa dirinya tidak memiliki niat untuk mencederai masyarakat sipil. Ia menyebut setiap langkah yang diambil tetap mempertimbangkan dampak kemanusiaan.

Namun, ketika didesak apakah pemerintahannya perlu mematuhi hukum internasional, Trump memberikan jawaban yang ambigu. Ia menyebut kepatuhan itu bersifat relatif dan sangat bergantung pada penafsiran. Menurutnya, Amerika Serikat memiliki hak untuk menentukan sendiri kapan aturan internasional berlaku. “Semua itu bergantung pada bagaimana Anda mendefinisikan hukum internasional,” ucapnya.

New York Times menilai pernyataan tersebut sebagai sinyal terang-terangan bahwa Trump siap mengesampingkan batasan hukum global dalam penggunaan kekuatan militer, ekonomi, maupun politik demi memperkuat dominasi Amerika Serikat di panggung dunia.

Pandangan tersebut, menurut laporan NYT, merupakan pengakuan paling terbuka dari Trump tentang filosofi globalnya: kekuatan nasional lebih menentukan daripada perjanjian, konvensi, atau norma internasional ketika kepentingan negara-negara besar saling bertabrakan.

Meski mengakui adanya sejumlah hambatan domestik, Trump tetap menunjukkan sikap agresif dalam menghadapi lembaga-lembaga yang dianggap berseberangan dengannya. Ia juga tidak ragu menggunakan reputasinya yang sulit ditebak sebagai alat tekanan, termasuk kesiapan mengerahkan kekuatan militer secara cepat untuk memaksa negara lain mengikuti kehendak Washington.

Dalam wawancara yang sama, Trump bahkan membanggakan keberhasilan AS dalam melumpuhkan program nuklir Iran, serta menyebut cepatnya proses penundukan pemerintahan Venezuela sebagai bukti efektivitas strateginya. Rencana penguasaan Greenland pun kembali ia singgung, meski menuai kritik tajam dari sekutu-sekutu NATO.

Ketika ditanya prioritas mana yang lebih penting antara mempertahankan NATO atau mendapatkan Greenland, Trump enggan memberikan jawaban tegas. Namun, ia mengisyaratkan dilema tersebut sebagai pilihan strategis. “Itu bisa saja menjadi sebuah pilihan,” katanya.

Pernyataan-pernyataan ini semakin menguatkan persepsi dunia bahwa di bawah kepemimpinan Trump, Amerika Serikat bergerak menuju pendekatan politik luar negeri yang mengedepankan kekuatan dan kepentingan nasional di atas aturan global. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com