WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, tengah mempertimbangkan opsi militer terhadap Iran. Tujuan utamanya, menurut sumber yang dikutip Reuters dan Al Arabiya Jumat (30/01/2026), adalah untuk memberikan dorongan moral kepada para demonstran yang memprotes rezim di Teheran.
Dua pejabat AS yang mengetahui diskusi di Gedung Putih menyebut, Trump ingin menciptakan kondisi yang dapat mendorong “perubahan kepemimpinan” setelah aksi keras terhadap unjuk rasa menewaskan ribuan warga di berbagai wilayah Iran pada awal bulan ini.
Opsi yang dipertimbangkan termasuk serangan terhadap komandan dan institusi yang dianggap bertanggung jawab atas kekerasan terhadap demonstran. Langkah semacam itu diharapkan dapat memberikan kepercayaan diri pada demonstran agar dapat menguasai gedung pemerintahan dan fasilitas keamanan.
Namun, Trump belum membuat keputusan final terkait jalur militer. Seorang pejabat AS mengatakan, para penasihat juga membahas opsi serangan lebih luas, termasuk menarget rudal Teheran atau program nuklir yang dianggap berisiko bagi sekutu AS di Timur Tengah.
Para pejabat regional dan Barat memperingatkan, serangan semacam itu bisa melemahkan gerakan protes yang sudah ada, bukan memperkuatnya. Direktur Program Iran di Middle East Institute, Alex Vatanka, menilai, “Tanpa pembelotan militer besar, unjuk rasa di Iran tetap heroik tapi kalah persenjataan.”
Beberapa sumber Barat menambahkan, tujuan Trump tampaknya lebih kepada memicu perubahan kepemimpinan daripada menggulingkan seluruh rezim, mirip intervensi AS di Venezuela.
Dalam sidang Senat AS membahas Venezuela pada 28 Januari, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut “harapan” transisi serupa jika pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, lengser. Meski demikian, Rubio mengakui situasi di Iran lebih rumit dan tidak jelas siapa pengganti Khamenei.
Para pejabat AS berpendapat, transisi di Iran bisa membuka jalan bagi negosiasi nuklir dan hubungan lebih erat dengan Barat. Namun, tanpa penerus yang jelas, Garda Revolusi Iran (IRGC) berpotensi mengambil alih, memperkuat garis keras, dan memperburuk ketegangan regional.
Trump sendiri membuka peluang untuk menghindari tindakan militer. Ia menyatakan sedang berkomunikasi dengan Iran dan berharap langkah militer tidak diperlukan. “Kita memiliki kelompok yang menuju ke Iran, dan mudah-mudahan kita tidak perlu menggunakannya,” katanya dalam pemutaran perdana film dokumenter tentang istrinya, Melania.
Juru bicara militer Iran, Brigadir Jenderal Mohammad Akraminia, memperingatkan bahwa respons Teheran tidak akan terbatas seperti pada Juni tahun lalu. Kapal induk AS dianggap memiliki “kerentanan serius”, dan pangkalan Amerika di Teluk berada dalam jangkauan rudal Iran. “Jika terjadi kesalahan perhitungan, ini tidak akan seperti yang dibayangkan Trump operasi cepat selesai dalam beberapa jam,” tegas Akraminia. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan