Upaya Menangani Masalah Sampah, Tapi Baru Tiga Unit Insinerator Siap Operasi

SAMARINDA — Pemerintah Kota Samarinda melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) terus mematangkan langkah penanganan sampah dengan membangun dan menyiapkan operasional sejumlah unit insinerator di berbagai wilayah. Hingga awal Januari 2026, beberapa unit insinerator telah selesai dirakit dan dinyatakan siap untuk dioperasionalkan, sementara unit lainnya masih dalam tahap penyelesaian pembangunan.

Pelaksana Tugas (PLt) Kepala DLH Kota Samarinda, Suwarso, menyampaikan bahwa progres pembangunan insinerator menunjukkan perkembangan positif. Sejumlah lokasi telah rampung secara fisik dan siap memasuki tahap operasional. “Beberapa unit sudah selesai dirakit dan siap dioperasionalkan. Lokasinya di polder Air hitam, Loa bahu, dan Lempake,” ujar Suwarso kepada awak media saat ditemui di Samarinda, Rabu (07/01/2026).

Ia menjelaskan bahwa hingga saat ini terdapat tiga unit insinerator yang telah selesai dan siap digunakan di dua titik utama. Satu unit telah rampung di kawasan Polder Air Hitam, sementara dua unit lainnya berada di wilayah Loa Bahu. Keberadaan insinerator tersebut diharapkan mampu membantu mengurangi volume sampah yang selama ini ditangani melalui Tempat Penampungan Sementara (TPS) dan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).

Di sisi lain, pembangunan insinerator di beberapa lokasi lainnya masih berada dalam tahap progres sekitar 60 hingga 70 persen. Lokasi yang dimaksud meliputi Bukit Pinang, Samarinda Seberang, Simpang Pasir, Lempake, serta Loa Janan Ilir. Menurut Suwarso, kendala utama yang dihadapi pada titik-titik tersebut adalah kesiapan lahan yang belum sepenuhnya matang.

“Di beberapa titik masih diperlukan pematangan lahan, sehingga progresnya belum bisa selesai seluruhnya. Namun, kami terus mendorong agar pengerjaannya bisa segera dituntaskan,” jelas Suwarso.

Selain fokus pada penyelesaian pembangunan fisik, DLH Samarinda juga tengah menyiapkan aspek operasional agar insinerator dapat berjalan optimal. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pelatihan bagi tenaga pengelola insinerator, khususnya di lokasi Loa Bahu, Jalan Nusyirwan Ismail, yang dinilai paling siap untuk segera beroperasi.

Pelatihan tersebut bertujuan memastikan para operator memahami prosedur kerja, standar keselamatan, serta teknis pengoperasian alat agar tidak menimbulkan risiko bagi pekerja maupun lingkungan sekitar.

Namun demikian, DLH Samarinda masih menghadapi kendala dalam pemenuhan sumber daya manusia. Dari proses rekrutmen sebelumnya, sejumlah calon tenaga pengelola diketahui mengundurkan diri atau dinilai tidak sesuai dengan karakteristik pekerjaan di lapangan. “Untuk tenaga pengelola memang belum sepenuhnya terpenuhi. Ada yang mengundurkan diri dan ada juga yang kurang cocok dengan jenis pekerjaan ini,” kata Suwarso.

Sebagai langkah lanjutan, DLH Samarinda kembali membuka tahap kedua rekrutmen tenaga pengelola insinerator sekaligus petugas keamanan. Dalam proses tersebut, DLH memprioritaskan tenaga kerja lokal yang berasal dari kecamatan di sekitar lokasi insinerator. “Kami buka kembali tahap kedua rekrutmen dan memprioritaskan tenaga lokal agar pengawasan lebih mudah dan biaya operasional bisa ditekan,” tutur Suwarso.

Pembangunan dan pengoperasian insinerator ini merupakan bagian dari strategi jangka menengah Pemerintah Kota Samarinda dalam menekan volume sampah yang terus meningkat setiap tahun. Dengan beroperasinya seluruh unit insinerator yang direncanakan, DLH berharap sistem pengelolaan sampah dapat menjadi lebih efektif, efisien, dan berkelanjutan.

“Harapannya, seluruh tahapan ini bisa berjalan lancar sehingga pengelolaan sampah di Samarinda semakin optimal dan manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” tutup Suwarso. []

Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com