Viral Mobil Tentara Malaysia di Krayan, Fakta Terungkap

NUNUKAN – Kemunculan mobil taktis berpelat militer Malaysia di lahan warga Desa Long Bawan, Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, memantik perhatian publik. Foto kendaraan tersebut menyebar luas di media sosial dan memicu pertanyaan soal aktivitas aparat negara tetangga di wilayah Indonesia.

Kendaraan berwarna hijau tersebut terlihat menggunakan pelat ZC 6735, yang diketahui merupakan kode resmi kendaraan dinas Tentara Diraja Malaysia. Keberadaan mobil militer asing di kawasan perbatasan RI itu pun langsung menjadi sorotan.

Camat Krayan Roni Firdaus membenarkan adanya aktivitas lintas batas personel militer Malaysia di Long Bawan. Namun ia menegaskan bahwa aktivitas tersebut bukan operasi militer dan telah melalui prosedur resmi. “Itu bukan kegiatan operasi. Mereka hanya melakukan aktivitas logistik dan sudah mengantongi izin resmi melalui mekanisme yang berlaku,” ujar Roni saat dikonfirmasi, Selasa (27/01/2026).

Roni menjelaskan, wilayah Krayan memang memiliki Pos Gabungan Bersama (Posgabma) di kawasan perbatasan, sehingga mobilitas tertentu antarnegara sudah diatur secara administratif dan diawasi aparat keamanan Indonesia. “Pergerakan mereka selalu terpantau dan diketahui Satgas Pamtas. Jadi tidak ada aktivitas sepihak,” katanya.

Ia menambahkan, lalu-lalang tentara Malaysia sebenarnya sudah lazim bagi warga perbatasan, meski tampak tidak biasa bagi masyarakat di luar Krayan. “Bagi warga sini ini hal yang biasa, karena mereka melintas dengan pengawalan dan prosedur yang jelas,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Komandan Kompi SSK-1 Satgas Pamtas, Kapten Arm Hafid Bahtiar. Ia menegaskan bahwa setiap kendaraan militer Malaysia yang masuk wilayah Indonesia wajib dikawal TNI. “Kalau tidak ada izin dan pengawalan dari kami, mereka tidak bisa masuk. Semua pergerakan diawasi,” tegas Hafid.

Hafid menyebut, tentara Malaysia yang masuk ke Long Bawan umumnya hanya untuk memenuhi kebutuhan logistik sehari-hari. “Biasanya dua personel Malaysia, didampingi anggota TNI dari dua pos. Tidak ada kegiatan lain di luar itu,” jelasnya.

Menurut Hafid, faktor jarak menjadi alasan utama tentara Malaysia memilih berbelanja ke Long Bawan. “Kalau ke kota di Malaysia bisa lima jam perjalanan. Ke Long Bawan hanya sekitar 20 sampai 30 menit, dan kebutuhan logistik tersedia,” katanya.

Ia memastikan, praktik serupa juga berlaku bagi personel TNI yang masuk ke wilayah Malaysia. “Kami juga diperlakukan sama. Kalau masuk wilayah mereka, tetap didampingi tentara Malaysia,” ujarnya.

Hafid menegaskan, tidak ada pelanggaran kedaulatan negara dalam aktivitas tersebut karena seluruh pergerakan dilakukan secara terbuka dan sesuai SOP. “Ini murni hubungan lintas batas yang diatur dan diawasi ketat. Tidak ada unsur spionase atau pelanggaran wilayah,” pungkasnya. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com