Viral Pelecehan Massal, Irak Bergerak Tangkap 17 Orang

BAGHDAD — Perayaan malam Tahun Baru di Irak berubah menjadi sorotan kelam setelah aparat keamanan menangkap 17 orang terkait dugaan pelecehan brutal terhadap seorang perempuan yang terekam dalam video dan menyebar luas di media sosial. Insiden yang terjadi di Kota Basra, Irak selatan, itu memantik kemarahan publik dan kembali membuka luka lama soal rapuhnya perlindungan perempuan di ruang publik.

Peristiwa tersebut dilaporkan terjadi pada Minggu, (04/01/2026), saat keramaian perayaan malam pergantian tahun berlangsung. Dalam rekaman yang beredar luas, tampak seorang perempuan dikerumuni puluhan pria, didorong, diangkat secara paksa, hingga dipaksa masuk ke dalam sebuah kendaraan di tengah teriakan minta tolong.

Otoritas setempat memastikan lokasi kejadian berada di pusat keramaian Basra. Dari sudut pengambilan gambar lain, terlihat sejumlah pria menekan kepala korban sambil berusaha menyeretnya ke dalam mobil, sementara warga di sekitar tidak memberikan perlindungan berarti.

Pemerintah daerah Basra bergerak cepat menyusul viralnya video tersebut. Gubernur Basra Asaad al-Eidani menegaskan bahwa aparat telah mengamankan 17 orang yang diduga terlibat langsung dalam insiden tersebut. Ia menekankan bahwa tindakan yang mencederai norma sosial dan mengancam keselamatan warga tidak akan diberi ruang di wilayahnya.

Menurut al-Eidani, negara memiliki kewajiban menjaga ketertiban umum, terlebih dalam momentum perayaan yang seharusnya berlangsung aman. Pemerintah daerah, kata dia, akan mengambil langkah hukum tegas agar kejadian serupa tidak terulang dan tidak dinormalisasi di tengah masyarakat.

Insiden ini menuai kecaman keras dari kelompok pembela hak perempuan. Organisasi Kebebasan Perempuan di Irak (OWFI) menilai kasus Basra bukan kejadian tunggal, melainkan gambaran dari pola kekerasan massal yang kian sering muncul di ruang publik, terutama saat acara besar.

Organisasi tersebut menyoroti bahwa jalanan dan ruang terbuka di Irak semakin tidak ramah bagi perempuan. Tekanan sosial, pembiaran aparat, serta budaya impunitas disebut membuat pelaku merasa aman melakukan pelecehan tanpa rasa takut terhadap konsekuensi hukum.

Aktivis perempuan juga menilai akar masalah terletak pada struktur sosial dan politik yang masih menempatkan perempuan sebagai kelompok rentan. Sistem tradisional yang kuat, minimnya penegakan hukum, serta lemahnya perlindungan negara disebut memperparah situasi.

Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya telah memperingatkan bahwa lebih dari satu juta perempuan dan anak perempuan di Irak berada dalam risiko kekerasan berbasis gender. Kasus Basra kembali menguatkan kekhawatiran bahwa ruang publik di negara tersebut belum sepenuhnya aman bagi perempuan, bahkan dalam momen perayaan nasional.

Penangkapan 17 orang ini dinilai sebagai ujian bagi pemerintah Irak: apakah penegakan hukum akan berujung pada keadilan nyata, atau kembali menjadi respons sesaat yang tenggelam setelah perhatian publik mereda. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com