KUTAI TIMUR – Jumlah sampah yang dihasilkan di Sangatta mengalami peningkatan signifikan selama bulan Ramadan. UPT Kebersihan Sangatta Utara mencatat, produksi sampah harian yang biasanya hanya sekitar 300 meter kubik, kini melonjak hingga 450 meter kubik per hari, atau meningkat dua kali lipat.
Kepala UPT Kebersihan Sangatta Utara, Julianto, menjelaskan bahwa lonjakan sampah ini disebabkan oleh peningkatan konsumsi masyarakat, terutama dari makanan dan minuman untuk berbuka puasa serta sahur. “Selama Ramadan, sampah yang dihasilkan warga jauh lebih banyak, terutama sisa makanan dan kemasan plastik dari takjil,” ujar Julianto pada Senin (17/03/2024).
Jenis sampah yang mendominasi adalah sampah organik, seperti sisa makanan, serta sampah plastik dari kemasan makanan dan minuman. Kondisi ini membuat petugas kebersihan harus bekerja ekstra keras agar sampah tidak menumpuk di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Untuk mengatasi lonjakan sampah, UPT Kebersihan Sangatta Utara telah menambah jumlah armada pengangkut sampah serta memperpanjang jam operasional petugas kebersihan.
Selain itu, pihaknya juga mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dalam mengelola sampah, seperti mengurangi penggunaan plastik sekali pakai dan membuang sampah pada tempatnya. “Kami berharap masyarakat bisa lebih sadar akan pentingnya pengelolaan sampah yang baik, terutama selama Ramadan,” tambah Julianto.
Savitri, salah seorang warga Sangatta yang tinggal di Jalan Perumahan Pelangi Indah, mengungkapkan pengalamannya terkait peningkatan sampah di lingkungan tempat tinggalnya. “Setiap hari selalu ada sampah lebih banyak dari biasanya, terutama dari kemasan makanan berbuka. Saya berusaha untuk memilah sampah agar tidak semuanya menumpuk begitu saja,” kata Savitri.
Dalam upaya mengelola sampah, UPT Kebersihan Sangatta Utara menerapkan sistem kerja bergantian. Petugas yang beragama non-Muslim bekerja dari sore hari hingga usai salat tarawih, sementara petugas Muslim melanjutkan tugas mereka setelah melaksanakan ibadah. “Kami tetap memastikan pekerjaan berjalan meski ada ibadah, dengan sistem bergantian. Meskipun puasa, tanggung jawab bekerja tetap dijalankan,” pungkas Julianto. []
Redaksi03