WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali menyerukan dibuatnya perjanjian nuklir baru setelah berakhirnya perjanjian terakhir dengan Rusia. Berakhirnya perjanjian ini memicu kekhawatiran internasional terkait kemungkinan perlombaan senjata global baru.
Dilaporkan AFP, Jumat (06/02/2026), pemerintahan Trump ingin perjanjian baru mencakup China, yang persenjataannya meningkat meski masih jauh lebih kecil dibanding AS dan Rusia. Namun Beijing menolak semua tekanan untuk ikut serta.
Trump sejauh ini enggan menanggapi permintaan Rusia untuk memperpanjang New START, kesepakatan yang ditandatangani pada 2010 dan menjadi batas terakhir bagi dua kekuatan nuklir terbesar dunia setelah puluhan tahun negosiasi pasca-Perang Dingin.
Beberapa jam setelah perjanjian berakhir, Trump menilai kesepakatan itu “dinegosiasikan dengan buruk” dan “sering dilanggar secara terang-terangan.”
“Kita perlu para ahli nuklir kita untuk merancang perjanjian baru yang lebih modern dan mampu bertahan lama,” tulis Trump di platform media sosial Truth Social.
Ketika ditanya apakah AS dan Rusia sepakat tetap mematuhi ketentuan New START sementara negosiasi kesepakatan baru berlangsung, juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan: “Sepengetahuan saya, tidak.”
Rusia menolak inspeksi berdasarkan New START karena memburuknya hubungan dengan pemerintahan Biden. Pada Rabu (04/02/2026), Moskow menyatakan tidak lagi menganggap diri terikat pada batasan hulu ledak nuklir setelah berakhirnya perjanjian.
Meski menghadapi kebuntuan New START, Trump tetap melanjutkan diplomasi dengan Rusia, termasuk mengundang Presiden Vladimir Putin ke Alaska Agustus lalu. AS juga mengumumkan pada Kamis (06/02/2026) kelanjutan dialog militer dengan Rusia setelah pembicaraan trilateral di Abu Dhabi terkait perang Ukraina. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan