RIYADH – Serangan udara kembali mengguncang Yaman setelah koalisi pimpinan Arab Saudi melancarkan operasi militer di wilayah al-Dhale. Serangan ini terjadi di tengah memanasnya konflik internal, menyusul ketidakhadiran pemimpin kelompok separatis Yaman, Aidaros Alzubidi, dalam perundingan politik yang dijadwalkan berlangsung di Riyadh.
Koalisi Arab Saudi, sebagaimana dilaporkan AFP pada Rabu (07/01/2026), menyebut langkah militer tersebut diambil setelah Alzubidi mengabaikan ultimatum agar hadir ke ibu kota Saudi dalam waktu 48 jam untuk membuka dialog. Ultimatum itu dikeluarkan setelah Dewan Transisi Selatan (Southern Transitional Council/STC) yang dipimpin Alzubidi merebut sebagian besar wilayah strategis Yaman pada Desember 2025.
Meski wilayah-wilayah tersebut sempat jatuh ke tangan separatis, koalisi Saudi bersama pasukan pemerintah Yaman dalam beberapa hari terakhir berhasil merebut kembali sejumlah area penting. Alzubidi dilaporkan gagal bertolak ke Riyadh, sementara koalisi menuding pemimpin separatis itu justru mengerahkan kekuatan militer dalam jumlah besar.
Ketegangan politik semakin meningkat setelah Dewan Kepemimpinan Kepresidenan Yaman lembaga eksekutif yang diisi tokoh-tokoh dengan dukungan Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) secara resmi mengumumkan pemecatan Alzubidi. Ia dituduh melakukan pengkhianatan tingkat tinggi terhadap pemerintahan yang diakui secara internasional.
Konfrontasi antar-faksi ini memicu kekhawatiran baru akan meluasnya kekerasan ke Aden, kota terbesar kedua di Yaman. STC diketahui masih bersikeras bahwa pemimpinnya berada di wilayah tersebut, meski situasi keamanan kian rapuh.
Di sisi lain, respons keras Arab Saudi terhadap manuver STC juga berdampak pada hubungan dengan Uni Emirat Arab. Hubungan kedua negara sekutu itu dilaporkan memburuk tajam, seiring perbedaan kepentingan politik dan militer di Yaman.
Sebelumnya diberitakan, kelompok separatis yang didukung UEA berhasil merebut wilayah luas di Yaman bulan lalu, termasuk sebagian besar Provinsi Hadramawt yang berbatasan langsung dengan Arab Saudi. Dalam ofensif tersebut, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Riyadh terpaksa mundur.
Namun, pada pekan lalu, koalisi Arab Saudi melancarkan serangkaian serangan udara yang diikuti operasi darat balasan. Langkah tersebut berhasil memukul mundur pasukan separatis dan mengubah kembali peta kekuasaan di kawasan konflik.
Eskalasi ini menandai babak baru konflik Yaman, yang tak hanya mempertaruhkan stabilitas internal negara tersebut, tetapi juga memperuncing persaingan pengaruh antara kekuatan regional di Timur Tengah. []
Admin03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan