Asap kiriman dari sejumlah wilayah pesisir memperparah kabut asap di Sampit, sementara keterbatasan sumber air dan jauhnya lokasi kebakaran menghambat upaya pemadaman karhutla di Kotawaringin Timur.
KOTAWARINGIN TIMUR – Kabut asap yang menyelimuti Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), dalam beberapa hari terakhir tidak hanya dipicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar perkotaan, tetapi juga asap kiriman dari sejumlah wilayah lain. Jarak kebakaran, arah angin pesisir, serta keterbatasan sumber air menjadi tantangan bagi tim gabungan dalam mengendalikan karhutla.
Bupati Kotim Halikinnor mengatakan, asap dari Ganepo, Seranau, Pulau Hanaut, hingga Lampuyang di Kecamatan Teluk Sampit terbawa angin menuju kawasan perkotaan. Kondisi tersebut membuat kabut asap tetap pekat, khususnya pada pagi hari, meskipun kebakaran di dalam kota hampir seluruhnya dapat ditangani.
“Ini salah satu yang membuat kabut asap lebih tebal beberapa hari ini, terutama pada pagi hari. Ada juga asap kiriman dari arah Ganefo, kemudian Seranau di seberang, bahkan Pulau Hanaut. Terakhir, ada informasi lagi di daerah Lampuyang, Kecamatan Teluk Sampit, terutama di pinggiran pantai Ujung Pandaran,” kata Halikinnor, Jumat (23/10/2026).
Menurut Halikinnor, kondisi geografis wilayah pesisir dan tiupan angin yang kencang turut memengaruhi penyebaran asap hingga ke pusat kota. Asap dari lokasi kebakaran yang berada jauh dari Sampit tetap dapat memperburuk kondisi udara meskipun sumber api di kawasan perkotaan mulai berkurang.
“Di sana merupakan daerah laut, otomatis anginnya kencang meniup asap. Akhirnya asap sampai ke daerah perkotaan. Itu yang membuat asap di perkotaan lebih pekat,” jelasnya.
Ia menegaskan, pemerintah daerah bersama tim gabungan terus melakukan pemadaman di lokasi kebakaran. Petugas bergerak setiap kali menemukan titik api di kawasan perkotaan, sedangkan penanganan di wilayah yang lebih jauh membutuhkan upaya lebih besar karena keterbatasan sarana dan sumber air.
“Kalau api di kota ini sudah hampir habis, karena kalau muncul seperti ini langsung kita padamkan. Tetapi asap itu tetap ada, terutama kiriman-kiriman dari daerah yang jauh,” ujarnya.
Keterbatasan air menjadi salah satu hambatan utama dalam pemadaman karhutla. Halikinnor menyebutkan, beberapa titik kebakaran berjarak hingga sekitar 10 kilometer dari sumber air. Jarak tersebut menyulitkan petugas memenuhi kebutuhan air, terlebih ketika lokasi kebakaran tidak memiliki sumber air yang memadai.
“Tim kita tetap bergerak siang malam ke sana. Hanya memang kendalanya sama, di kota saja kita kesulitan air, di sana apalagi. Ada yang jaraknya sampai 10 kilometer, itu sangat susah sekali melakukan pemadaman. Belum lagi sumber air di lokasi kebakaran itu tidak ada,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, pemerintah daerah telah membangun sumur bor dan memanfaatkan embung portabel sebagai tempat penampungan air. Namun, upaya itu belum sepenuhnya efektif. Sejumlah sumur bor hanya mampu mengeluarkan air dalam waktu singkat sebelum kembali mengering.
Penyaluran air dengan sistem embung portabel secara estafet juga menghadapi kendala jarak. Distribusi air hingga sekitar tiga kilometer belum mampu memenuhi kebutuhan pemadaman secara maksimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan kebakaran di lokasi terpencil tidak hanya bergantung pada keberadaan petugas, tetapi juga ketersediaan air dan efektivitas distribusinya.
Meski menghadapi berbagai keterbatasan, tim gabungan tetap melakukan pemadaman siang dan malam sesuai kondisi di lapangan. Halikinnor turut mengapresiasi keterlibatan petugas dan masyarakat dalam upaya mengendalikan karhutla, yang diharapkan dapat menekan penyebaran asap serta mengurangi dampaknya terhadap aktivitas warga.
“Kita tetap berusaha melakukan pemadaman semampu kita. Makanya, kita berterima kasih sekali kepada tim dan juga masyarakat yang turut membantu,” pungkasnya. []
Redaksi 03
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan