Seperempat abad setelah serangan 9/11, generasi muda AS semakin bergantung pada media sosial dan arsip digital untuk memahami tragedi tersebut, tetapi sekaligus menghadapi derasnya teori konspirasi tanpa konteks sejarah.
NEW YORK – Seperempat abad setelah serangan 11 September 2001 atau 9/11, tantangan memahami tragedi tersebut bergeser dari mengingat peristiwa menjadi memilah informasi. Generasi muda Amerika Serikat (AS) yang tidak mengalami langsung serangan itu kini mengenal 9/11 melalui YouTube, TikTok, Instagram, dokumenter, dan arsip digital, di tengah derasnya teori konspirasi yang beredar tanpa konteks memadai.
Mantan Wali Kota New York City Michael Bloomberg menyebut lebih dari 100 juta warga AS terlalu muda untuk memiliki ingatan langsung mengenai peristiwa yang menewaskan ribuan orang dan mengubah kebijakan keamanan dunia tersebut.
“Lebih dari 100 juta warga Amerika terlalu muda untuk mengingat hari itu,” ujar Bloomberg.
Bagi generasi yang lahir setelah 2001, rekaman pesawat menghantam Menara Kembar World Trade Center, runtuhnya gedung, hingga kesaksian para penyintas menjadi pintu utama untuk memahami tragedi tersebut. Namun, ekosistem informasi saat ini berbeda jauh dibandingkan ketika serangan berlangsung.
Pada 2001, televisi dan surat kabar menjadi sumber utama informasi dengan proses penyuntingan dan pertimbangan konteks pemberitaan. Kini, media sosial memungkinkan siapa pun mengunggah, memotong, dan menyebarluaskan kembali rekaman 9/11 sehingga informasi faktual dapat muncul berdampingan dengan teori konspirasi.
Fenomena tersebut menjadi perhatian dalam peringatan 25 tahun 9/11, sebagaimana diberitakan Cnn indonesia, Jumat, (11/09/2026). Organisasi media kemudian kembali membuka arsip pemberitaan lama agar generasi muda memperoleh konteks sejarah dari sumber yang lebih dapat dipertanggungjawabkan.
Program berita Columbia Broadcasting System (CBS), 60 Minutes, misalnya, kembali membagikan sejumlah liputan terdahulu mengenai 9/11 melalui media sosial. History Channel juga menayangkan kembali wawancara dengan para penyintas.
Dokumenter Turning Point: Generation 9/11 turut menarik perhatian publik dan menjadi salah satu tayangan yang banyak ditonton secara global di Netflix. Dokumenter dinilai dapat memberikan konteks yang lebih utuh mengenai rangkaian serangan serta dampaknya terhadap masyarakat.
Film 9/11 juga menampilkan rekaman langka petugas pemadam kebakaran yang berada di dalam World Trade Center ketika serangan berlangsung. Selain dokumenter, rekaman mentah siaran televisi pada pagi 11 September 2001 kembali banyak beredar di platform digital.
Sejumlah pengguna YouTube bahkan menyusun ulang liputan dari berbagai jaringan televisi. Salah satu kompilasi menampilkan siaran dari delapan stasiun televisi selama 18 menit pertama serangan di New York.
WNYW, afiliasi Fox di New York, tercatat menjadi stasiun televisi lokal pertama yang menyiarkan perkembangan serangan tersebut. Cable News Network (CNN) kemudian menjadi jaringan nasional pertama yang menayangkan laporan mengenai kejadian itu.
“Anda jelas sedang melihat tayangan langsung yang sangat mengerikan,” kata pembawa acara CNN Carol Lin ketika kamera yang mengarah ke Lower Manhattan memperlihatkan kerusakan pada Menara Utara.
Rekaman siaran langsung tersebut memperlihatkan suasana penuh ketidakpastian pada menit-menit awal serangan. Saat itu, masyarakat maupun media belum mengetahui secara pasti apa yang sedang terjadi dan seberapa besar skala serangan.
Jim Geraghty dari National Review juga menyoroti pengalaman tersebut ketika membahas bagaimana generasi muda sekarang melihat kembali arsip 9/11.
“Nak, hal yang tidak akan ditunjukkan oleh film dokumenter mana pun adalah bagaimana pagi itu, setelah laporan pertama, tidak ada seorang pun yang tahu apa pun,” tulis Geraghty pada Kamis.
Perbedaan lingkungan informasi menjadi salah satu faktor penting. Pada 2001, belum ada TikTok, X, siaran langsung media sosial, maupun teknologi deepfake berbasis kecerdasan buatan (AI) seperti saat ini. Warga New York menyaksikan langsung kepulan asap dan runtuhnya gedung, sedangkan masyarakat di wilayah lain mengikuti perkembangan melalui televisi serta situs berita yang saat itu masih berkembang.
Kondisi tersebut membuat generasi pasca-9/11 menghadapi tantangan berbeda: mereka memiliki akses jauh lebih luas terhadap dokumentasi tragedi, tetapi sekaligus harus mampu membedakan arsip sejarah, informasi yang telah diverifikasi, opini, dan teori konspirasi. Karena itu, ketersediaan arsip media yang kredibel dan peningkatan literasi digital menjadi semakin penting agar pemahaman terhadap tragedi 9/11 tidak terlepas dari konteks sejarahnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan