Penugasan panjang USS Abraham Lincoln selama 263 hari memicu kekhawatiran keluarga terhadap kondisi psikologis awak kapal setelah tujuh personel dilaporkan tewas dalam insiden perkelahian
WASHINGTON, D.C. – Kekhawatiran keluarga terhadap kondisi psikologis awak kapal induk USS Abraham Lincoln mencuat setelah tujuh personel angkatan laut Amerika Serikat (AS) dilaporkan tewas dalam insiden perkelahian di kapal tersebut. Peristiwa itu terjadi ketika kapal menjalani penugasan panjang di tengah operasi militer AS di kawasan Timur Tengah.
Laporan mengenai bentrokan tersebut disampaikan kantor berita Iran Tasnim. Berdasarkan laporan itu, perkelahian terjadi setelah seorang penasihat kepala Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), Brad Cooper, naik ke kapal untuk merespons keluhan awak mengenai lamanya masa penugasan.
USS Abraham Lincoln disebut telah menjalani penugasan selama 263 hari dan saat ini beroperasi di Samudra Hindia. Kapal tersebut dikerahkan untuk mendukung operasi militer AS, termasuk misi yang berkaitan dengan konflik dengan Iran.
Kekhawatiran keluarga sebelumnya telah disampaikan secara langsung kepada pimpinan Angkatan Laut AS dalam pertemuan di San Diego pada Kamis (6/8). Pertemuan itu dihadiri sekitar 200 orang dan membahas dampak penugasan berbulan-bulan di laut terhadap kondisi para pelaut.
Dalam pertemuan tersebut, salah seorang istri menyampaikan bahwa suaminya pernah mengirim pesan yang menyatakan “dia berharap dia tidak bangun besok,” menurut salah satu peserta yang hadir. Para pejabat kemudian mengatakan para pelaut memiliki akses terhadap tenaga kesehatan mental, pendeta, dokter, serta dukungan lainnya.
Angkatan Laut AS juga menyatakan sedang berupaya menambah tenaga profesional kesehatan mental di kapal. Langkah itu dilakukan setelah keluarga dan sejumlah pelaut menyampaikan kekhawatiran mengenai kondisi psikologis awak selama penugasan yang berlangsung jauh lebih lama dari perkiraan.
“Pimpinan terus melakukan penilaian untuk memantau dan mempertahankan kesiapan psikologis setiap pelaut,” kata Angkatan Laut dalam sebuah pernyataan pada Senin.
Laporan media Stripes turut mengutip studi 2025 yang diterbitkan dalam jurnal Military Medicine. Penelitian terhadap 956 pelaut yang bertugas di kapal induk, kapal perusak, dan kapal amfibi menemukan sejumlah persoalan yang dapat memperburuk kondisi personel, antara lain keterbatasan waktu istirahat, akses terhadap layanan kesehatan mental dan fisik, kesulitan berkomunikasi dengan keluarga, serta minimnya kesempatan untuk mengurangi tekanan selama penugasan.
Kondisi tersebut dinilai dapat semakin berat ketika awak kapal tidak mengetahui secara pasti kapan masa penugasan mereka akan berakhir. Thomas Nutzmann, pensiunan kepala bintara Angkatan Laut yang pernah menjalani empat kali penugasan selama 20 tahun masa dinasnya, menggambarkan situasi itu sebagai tekanan yang berlangsung terus-menerus.
“Tidak ada hari Senin, Selasa, Rabu, ini hanya satu hari,” kata Nutzmann tentang berada di laut dalam jangka waktu yang lama.
“Anda mencoba untuk mempertahankan optimisme sebaik mungkin. Masalahnya adalah ketika Anda berada di laut begitu lama, Anda hanya bisa melakukan sedikit hal untuk menjaga moral tetap tinggi sebelum Anda mencapai kebuntuan dan di situlah kemerosotan terjadi,” katanya.
USS Abraham Lincoln diketahui bergabung dengan Armada Kelima AS pada akhir Januari 2026. Pengerahan gugus tempur kapal tersebut berlangsung menjelang konflik AS-Israel dengan Iran yang menurut laporan itu dimulai pada 28 Februari.
Sementara itu, Angkatan Laut AS belum menjelaskan secara terperinci bagaimana mereka menangani seluruh kekhawatiran keluarga mengenai kesehatan mental dan potensi perilaku melukai diri sendiri yang disampaikan dalam pertemuan tersebut. Namun, pihak Angkatan Laut menegaskan bahwa kapal memiliki jaringan dukungan yang melibatkan konselor, pendeta, tenaga medis, dan layanan lainnya.
Kekhawatiran mengenai kesehatan psikologis awak kini menjadi bagian penting dari sorotan terhadap penugasan panjang USS Abraham Lincoln. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa selain kesiapan tempur, keberlanjutan dukungan kesehatan mental personel menjadi faktor yang tidak kalah penting dalam menjaga kesiapan awak kapal selama menjalankan misi berkepanjangan, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Rabu, (12/08/2026). []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan