SAMARINDA – Di tengah maraknya minuman modern dan produk kemasan instan, usaha jamu tradisional masih bertahan di Kota Samarinda. Salah satunya dijalankan oleh Suyatmi, penjual jamu keliling dengan merek “Jamu Mama Nurul”, yang telah menekuni usaha tersebut selama 21 tahun dan tetap setia melayani pelanggan dari berbagai kalangan.
Suyatmi mengungkapkan, ia mulai berjualan jamu sejak lebih dari dua dekade lalu. Pada masa awal merintis usaha, ia menjajakan jamu dengan cara digendong dan berkeliling dari satu tempat ke tempat lain selama kurang lebih dua tahun. Seiring berjalannya waktu, serta demi mempermudah mobilitas dan menjangkau lebih banyak pelanggan, ia kemudian beralih menggunakan sepeda sebagai sarana berjualan keliling.
“Saya sudah 21 tahun berjualan jamu. Awalnya jamu gendong sekitar dua tahun, setelah itu saya pakai sepeda,” ujar Suyatmi saat ditemui di sela-sela aktivitasnya berjualan, Minggu (26/01/2026).
Dalam kesehariannya, Suyatmi memiliki rute dan jadwal berjualan yang relatif tetap. Pada pagi hari, ia berkeliling di kawasan Jalan Lambung Mangkurat dan sekitarnya mulai pukul 08.00 Wita hingga 11.30 Wita. Setelah beristirahat sejenak, ia kembali melanjutkan aktivitas berjualan pada sore hari di sekitar Jalan Merdeka mulai pukul 16.00 Wita hingga 18.00 Wita.
Beragam jenis jamu tradisional ditawarkan kepada para pelanggan. Jenis jamu yang dijual antara lain jamu kunyit, sirih, kencur, jahe, serta manjakani. Seluruh jamu tersebut diproduksi sendiri oleh Suyatmi dengan proses tradisional dan menggunakan bahan-bahan alami tanpa campuran pengawet.
“Jamu yang saya jual ada kunyit, sirih, kencur, jahe, dan manjakani. Proses perebusan sudah dimulai sejak jam empat subuh setiap hari,” jelasnya.
Dalam proses produksi, Suyatmi tidak setiap hari menumbuk bahan jamu. Ia menyiapkan bahan dalam jumlah tertentu agar lebih efisien dari sisi waktu dan tenaga. Dalam sekali produksi, bahan jamu yang ditumbuk mencapai sekitar delapan kilogram dan dapat digunakan untuk kebutuhan penjualan selama kurang lebih empat hari.
“Kalau menumbuk bahan jamu itu sekitar delapan kilogram dan biasanya cukup untuk empat hari, jadi tidak setiap hari produksi,” kata Suyatmi.
Dari sisi harga, Suyatmi mematok tarif yang relatif terjangkau bagi masyarakat. Jamu yang disajikan per gelas dijual dengan harga Rp4.000. Selain itu, ia juga menyediakan jamu dalam kemasan botol berukuran 600 mililiter dengan harga Rp12.000, khususnya untuk jenis jamu kunyit dan kencur.
“Kalau per gelas harganya Rp4.000. Ada juga jamu botolan ukuran 600 mililiter seharga Rp12.000. Biasanya yang beli botolan itu pelanggan tetap,” ungkapnya.
Suyatmi sendiri berdomisili di Jalan Lambung Mangkurat Gang Empat, Kelurahan Pelita, Kecamatan Samarinda Ilir. Dengan konsistensi menjaga kualitas, kebersihan, serta cita rasa jamu tradisional, ia berharap usahanya tetap diminati masyarakat dan mampu bertahan di tengah gempuran produk minuman modern.
Selain sebagai sumber penghidupan, bagi Suyatmi, berjualan jamu juga menjadi bentuk upaya melestarikan minuman herbal tradisional yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia sejak lama. []
Penulis: Guntur Riyadi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan