Bonus Dipotong, Atlet Banjarmasin Siap Sampaikan Aspirasi ke DPR

BANJARMASIN – Rencana penurunan bonus Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) 2025 memicu gelombang penolakan dari atlet dan cabang olahraga (cabor) di Kota Banjarmasin. Kebijakan tersebut dinilai mencederai semangat juang atlet yang selama ini berkorban waktu, tenaga, bahkan pekerjaan demi membawa prestasi bagi daerah.

Berdasarkan informasi yang beredar di lingkungan olahraga, bonus medali emas yang sebelumnya mencapai Rp25 juta kini diturunkan menjadi Rp20 juta. Bonus perak ikut dipangkas dari Rp15 juta menjadi Rp12,5 juta, sementara perunggu turun dari Rp10 juta menjadi Rp7,5 juta. Pemangkasan juga terjadi pada kategori beregu, di mana tambahan bonus per atlet yang sebelumnya 20 persen, kini hanya 10 persen.

Merespons kondisi tersebut, perwakilan sejumlah cabor yang tergabung dalam KONI Banjarmasin menggelar pertemuan di Sekretariat PODSI Banjarmasin, Jalan Surgi Mufti, Banjarmasin Utara, pada Sabtu (24/01/2026). Dalam forum itu, seluruh cabor sepakat menolak penurunan bonus dan meminta kebijakan tersebut dikaji ulang.

Ketua PODSI Kalimantan Selatan sekaligus pelatih tim dayung Banjarmasin, Donny Wirawan Achdiat, menilai dampak kebijakan ini tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi berpotensi merusak ekosistem pembinaan olahraga ke depan. “Kalau bonus terus ditekan, bukan tidak mungkin atlet dan pelatih akan berpikir ulang untuk membela Banjarmasin. Apalagi daerah lain justru berlomba meningkatkan apresiasi,” ujar Donny, Minggu (25/01/2026).

Ia menyebut, kebijakan ini menjadikan Banjarmasin berbeda sendiri dibanding kabupaten/kota lain di Kalimantan Selatan yang justru menaikkan bonus atlet. “Ketika daerah lain bisa menaikkan, Banjarmasin malah menurunkan. Ini menimbulkan pertanyaan besar soal keberpihakan kepada atlet,” katanya.

Donny juga menyoroti dampak signifikan pada cabor beregu, khususnya dayung nomor perahu naga yang melibatkan hingga 15 atlet dalam satu tim. Dengan skema bonus terbaru, nilai yang diterima atlet dinilai jauh dari kata layak. “Kalau dihitung, satu atlet perahu naga bisa menerima kurang dari Rp2 juta. Angka itu jelas tidak sebanding dengan latihan keras dan risiko yang mereka hadapi,” ungkapnya.

Menurut Donny, Porprov bukan sekadar kompetisi biasa. Atlet mempersiapkan diri dalam waktu panjang dan harus mengorbankan banyak hal. “Banyak atlet meninggalkan pekerjaan, pendidikan, bahkan urusan keluarga. Porprov ini empat tahun sekali, jadi wajar jika mereka berharap apresiasi yang layak,” tegasnya.

Ia berharap keputusan tersebut belum final dan masih bisa diubah. Dalam waktu dekat, para cabor berencana menyampaikan aspirasi langsung kepada DPRD sebagai pihak yang memiliki kewenangan dalam penganggaran. “Kami masih optimistis ada ruang dialog. Aspirasi ini akan kami sampaikan langsung ke DPR agar suara atlet tidak diabaikan,” ujarnya.

Nada keberatan juga disampaikan Sekretaris Umum Muaythai Banjarmasin, Indra Prasetyo, didampingi Pelatih Muaythai Fajrin Husnul. Indra menilai pemangkasan bonus bertolak belakang dengan semangat pembinaan prestasi. “Bonus seharusnya meningkat sebagai bentuk penghargaan. Saat daerah lain menaikkan, kenapa Banjarmasin justru menurunkan?” ucap Indra.

Ia mengungkapkan, banyak atlet dan pelatih yang harus menanggung risiko ekonomi demi mengejar prestasi. “Ada atlet yang cuti panjang, ada yang meninggalkan pekerjaan, bahkan kehilangan penghasilan harian. Semua itu dilakukan demi membawa medali untuk kota ini,” katanya.

Indra menegaskan, jika pengorbanan atlet terus dikalahkan oleh kepentingan anggaran lain, maka olahraga belum benar-benar diposisikan sebagai aset strategis daerah. “Kalau kerja keras atlet selalu kalah prioritas, itu tanda bahwa olahraga belum dianggap penting dalam pembangunan daerah,” pungkasnya. []

Admin03

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com