KUTAI KARTANEGARA – Inovasi produk berbasis potensi lokal terus tumbuh di wilayah pesisir Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Salah satu yang menarik perhatian datang dari Handil Muara Jawa Ilir, Kecamatan Muara Jawa, melalui usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) sirup mangrove yang dikelola oleh Siah sejak tahun 2024.
Usaha ini memanfaatkan buah mangrove jenis Sonneratia yang telah matang sebagai bahan baku utama. Buah mangrove tersebut diolah menjadi sirup dengan cita rasa khas sekaligus memiliki berbagai manfaat kesehatan. Kandungan vitamin C yang tinggi, sifat antioksidan, antiinflamasi, serta manfaatnya dalam membantu meredakan panas dalam menjadi keunggulan produk ini dibandingkan minuman olahan lainnya.
Siah menjelaskan, proses produksi sirup mangrove masih dilakukan secara sederhana dan dalam skala terbatas. Hal ini disebabkan ketersediaan bahan baku yang sangat bergantung pada musim berbuah mangrove di kawasan pesisir. Dalam kondisi normal, ia mampu memproduksi sekitar 50 botol sirup setiap bulan, dengan ukuran 200 mililiter per botol.
“Buah mangrove ini musiman, jadi kapasitas produksi tergantung dari buah yang didapat. Kalau stok ada, produksi bisa berjalan,” ujar Siah saat diwawancarai pada Senin (02/02/2026).
Meski dihadapkan pada keterbatasan bahan baku, sirup mangrove produksi UMKM lokal ini mendapat respons positif dari masyarakat. Selain rasanya yang unik, konsumen juga tertarik pada nilai kesehatan yang terkandung di dalamnya. Produk ini kerap diminati sebagai minuman alternatif alami sekaligus oleh-oleh khas wilayah pesisir Muara Jawa.
Saat ini, sirup mangrove tersebut dipasarkan dengan harga Rp15.000 per botol. Dari hasil penjualan, Siah mengaku mampu meraih omzet sekitar Rp750 ribu per bulan. Capaian ini dinilai cukup menjanjikan bagi usaha rumahan yang masih berada pada tahap awal pengembangan.
Menurut Siah, pengembangan usaha sirup mangrove masih menghadapi sejumlah kendala, terutama keterbatasan bahan baku dan modal untuk meningkatkan skala produksi. Namun demikian, ia berharap ke depan produksi dapat ditingkatkan seiring dengan dukungan berbagai pihak, baik dari pemerintah daerah maupun lembaga pendamping UMKM.
Ia juga berharap produk olahan mangrove ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi turut memperkenalkan potensi mangrove lokal sebagai bahan pangan bernilai tambah. Selain itu, pengolahan mangrove secara bijak diharapkan dapat berjalan seiring dengan upaya pelestarian ekosistem pesisir.
Keberadaan UMKM sirup mangrove di Handil Muara Jawa Ilir ini menjadi contoh nyata bagaimana pemanfaatan sumber daya alam pesisir secara berkelanjutan mampu membuka peluang usaha baru, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mendorong penguatan ekonomi lokal di Kabupaten Kutai Kartanegara. []
Penulis: Anggi Triomi | Penyunting: Nursiah
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan