Dekati Ramadan, Dinkes Balikpapan Waspadai Lonjakan ISPA dan Hipertensi

BALIKPAPAN — Menjelang pertengahan Februari dan semakin dekat dengan bulan suci Ramadan, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Balikpapan mengimbau masyarakat untuk lebih disiplin menjaga pola makan dan kesehatan tubuh selama menjalankan ibadah puasa.

Kepala Dinkes Kota Balikpapan, Alwiati, menekankan pentingnya mengonsumsi gizi seimbang serta menghindari kebiasaan makan yang dapat memicu gangguan kesehatan. Menurutnya, banyak masyarakat yang kurang memperhatikan jenis makanan saat sahur dan berbuka puasa.

“Kalau di bulan Ramadan itu supaya kita bisa melaksanakan ibadah puasa lebih khusyuk dan maksimal, saya mengimbau seluruh masyarakat tetap menjaga kesehatan dengan mengonsumsi makanan bergizi dan seimbang,” ujar Alwiati, Rabu (11/02/2026) di halaman Pemkot Balikpapan.

Alwiati secara khusus mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan mengonsumsi gorengan dan minuman dingin. Kebiasaan tersebut kerap memicu gangguan kesehatan, mulai dari masalah pencernaan hingga peningkatan tekanan darah. “Jangan terlalu banyak makan gorengan dan minum es. Gorengan itu biasanya memicu masalah kesehatan, termasuk batuk dan gangguan lainnya. Itu yang harus dihindari,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa penyakit yang paling sering muncul selama Ramadan antara lain Infeksi Saluran Pernapasan Atas (ISPA) dan hipertensi. Pola makan tinggi garam dan lemak menjadi salah satu penyebab meningkatnya tekanan darah, terutama bagi penderita hipertensi.

“Hipertensi biasanya naik karena pola makan, gorengan, dan makanan asin. Untuk penderita diabetes melitus (DM), tetap harus menjaga keseimbangan makanan dan jangan lupa minum obat. Obat hipertensi dan DM harus diminum rutin, tidak boleh dihentikan,” jelasnya.

Terkait kondisi ISPA di Balikpapan, Alwiati memastikan hingga Februari jumlah kasus masih relatif terkendali. Namun, penyakit ini bersifat fluktuatif dan sangat dipengaruhi cuaca serta perilaku masyarakat. “Sampai Februari ini kasus ISPA tidak terlalu tinggi, sekitar 7 ribuan. Tapi trennya bisa naik-turun tergantung cuaca,” ungkapnya.

Alwiati menambahkan, penerapan perilaku hidup bersih dan sehat menjadi kunci mencegah penyebaran penyakit. Masyarakat yang sakit diimbau melakukan isolasi mandiri dan menggunakan masker.

“Selama masyarakat menjaga perilaku hidup bersih dan sehat, menjaga pola makan, serta yang sakit memakai masker dan membatasi aktivitas, penyebaran tidak akan terlalu signifikan,” pungkasnya. []

Penulis: Desy Alfy Fauzia | Penyunting: Nursiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com