BGN menghentikan sementara 62 SPPG karena tidak memenuhi standar menu dan sanitasi dalam pelaksanaan program MBG selama Ramadan.
JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) mengambil langkah tegas terhadap pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 1447 Hijriah dengan memberhentikan sementara 62 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang dinilai tidak memenuhi standar anggaran dan kualitas layanan.
Kebijakan ini dilakukan sebagai bentuk pengawasan dan evaluasi terhadap pelaksanaan MBG, sekaligus memastikan seluruh penyelenggara mematuhi ketentuan pemerintah terkait penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat.
Kepala BGN Dadan Hidayana menegaskan bahwa penutupan sementara tersebut dipicu oleh ketidaksesuaian menu yang disajikan oleh sejumlah SPPG selama Ramadan.
“Minimal ada 62 SPPG yang kami tutup sementara karena tidak sesuai di dalam memberikan menu, baik itu menu minimalis maupun menu yang kurang baik, itu yang selama Ramadhan ini kita tutup dulu sementara,” kata Dadan, Rabu (18/03/2026).
Selain persoalan menu yang tidak sesuai pagu anggaran, BGN juga menemukan sejumlah SPPG yang belum memenuhi standar sanitasi dan pengelolaan limbah. Beberapa di antaranya belum memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) maupun Sertifikat Laik Higiene dan Sanitasi (SLHS), sehingga dinilai belum layak beroperasi.
“Yang belum memiliki SLHS itu juga jumlahnya lebih besar, dan itu kita tutup sementara sampai dia menyelesaikan semua prosesnya,” ujarnya.
Dadan menjelaskan bahwa langkah penutupan tidak dilakukan secara tiba-tiba, melainkan melalui tahapan yang telah diatur, mulai dari pemberian surat peringatan hingga evaluasi kinerja mitra penyelenggara.
“Kita ada mekanismenya, yang pertama tentu saja ada surat peringatan pertama, surat peringatan kedua, kemudian ada penutupan sementara, lalu kita berikan kesempatan untuk memperbaiki diri,” ungkapnya.
“Nanti kalau dia (mitra atau SPPG) mengulangi lagi pelanggarannya, tidak tertutup kemungkinan untuk ditutup permanen,” lanjut dia.
Meski terdapat puluhan SPPG yang diberhentikan sementara, BGN menilai jumlah tersebut relatif kecil dibandingkan total lebih dari 25.000 SPPG yang beroperasi secara nasional dan telah menjalankan program MBG sesuai ketentuan.
“Padahal ada 25.000 lebih SPPG yang berjalan, tetapi 62 itu yang membuat menu kurang sesuai dan minimalis yang membuat viral, jadinya vocal minority, kan? 62 tetapi membuat viral seluruhnya, padahal sebagian besar kan melaksanakan dengan baik,” ucapnya.
“Jadi, kami ingin yang 62 itu makin lama makin kecil, sehingga laporan yang keluar itu adalah yang silent majority ini, jadi harus diungkap bahwa (SPPG) yang bagus-bagus itu banyak,” tandas Dadan.
Langkah evaluasi ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pelaksanaan program MBG secara menyeluruh, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap upaya pemerintah dalam memenuhi kebutuhan gizi masyarakat selama Ramadan dan seterusnya. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan