Enam titik pemantauan hilal di DKI Jakarta menjadi bagian penting dalam penentuan awal Idulfitri 1447 Hijriah melalui sidang isbat Kementerian Agama.
JAKARTA – Penentuan awal Idulfitri 1447 Hijriah di Indonesia bergantung pada hasil pemantauan hilal yang dilakukan serentak di berbagai daerah, termasuk enam titik strategis di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota (DKI) Jakarta yang menjadi bagian dari proses sidang isbat Kementerian Agama.
Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama (Kemenag) DKI Jakarta menyatakan pengamatan hilal dilakukan pada Kamis 19 Maret 2026 mulai pukul 15.00 WIB di enam lokasi yang tersebar di ibu kota. Langkah ini merupakan bagian dari pemantauan nasional di 117 titik yang akan menjadi dasar penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah.
“Rukyatul hilal di DKI dilakukan di enam lokasi bekerjasama dengan segenap ormas Islam dan instansi terkait,” kata Kepala Kanwil Kemenag DKI Jakarta, Adib, sebagaimana dilansir Cnn Indonesia, Kamis (19/03/2026).
Enam titik pengamatan tersebut meliputi Lantai 7 Gedung Kanwil Kemenag di Jakarta Timur, Masjid Hasyim Asy’ari Jakarta Barat, Masjid Musari’in Basmol Jakarta Barat, Masjid Raya Jakarta Islamic Centre (JIC) Jakarta Utara, Rumah Falak Pondok Labu Jakarta Selatan, serta Pulau Karya/Pramuka di Kabupaten Kepulauan Seribu.
Hasil rukyatul hilal dari berbagai daerah, termasuk DKI Jakarta, selanjutnya akan dibahas dalam sidang isbat yang digelar Kemenag pada hari yang sama. Sidang ini melibatkan sejumlah pihak, seperti Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI), Mahkamah Agung (MA), Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Informasi Geospasial (BIG), perwakilan duta besar negara sahabat, serta organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam.
Di tengah proses tersebut, sejumlah organisasi telah lebih dahulu menetapkan prediksi Idulfitri. Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026. Sementara itu, berdasarkan perhitungan astronomi, hilal diperkirakan belum dapat diamati pada hari ini sehingga bulan Ramadan berpotensi digenapkan menjadi 30 hari dan Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah ini berpotensi memunculkan perbedaan waktu perayaan Idulfitri di Indonesia. Meski demikian, pemerintah melalui sidang isbat diharapkan dapat memberikan keputusan resmi yang menjadi acuan bersama bagi umat Muslim di Tanah Air. []
Redaksi4
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan