Warga Gaza tetap melaksanakan salat Idulfitri di tengah kerusakan infrastruktur dan pembatasan akibat konflik yang masih berlangsung.
GAZA – Perayaan Idulfitri 1447 Hijriah di Jalur Gaza berlangsung dalam situasi darurat kemanusiaan, dengan ribuan warga Palestina tetap menunaikan salat Id di tengah reruntuhan bangunan akibat konflik bersenjata yang masih berlangsung.
Warga melaksanakan ibadah di ruang terbuka, termasuk di Lapangan Al-Saraya, karena banyak masjid mengalami kerusakan parah. Keterbatasan fasilitas tidak menyurutkan pelaksanaan tradisi keagamaan yang tetap dijalankan bersama keluarga, meski di tengah kondisi sulit.
Sehari sebelum Idulfitri, badan pertahanan sipil Gaza melaporkan empat warga tewas akibat serangan udara. Sementara itu, militer Israel menyatakan telah menewaskan individu yang dianggap mengancam pasukannya. Situasi ini menunjukkan eskalasi konflik yang masih terjadi meski terdapat upaya gencatan senjata sebelumnya.
Pejabat Hamas Palestina, Ismail Radwan, turut memimpin pelaksanaan salat Id di Lapangan Al-Saraya. Di sejumlah titik, anggota Brigade Ezzedine Al-Qassam dan Brigade Quds Jihad Islam tampak berjaga untuk memastikan keamanan jalannya ibadah.
Selain melaksanakan salat, sebagian warga juga mengunjungi makam keluarga di Pemakaman Al-Saraya. Aktivitas tersebut menjadi bagian dari tradisi Idulfitri yang tetap dijalankan meski kondisi keamanan belum sepenuhnya pulih.
Data setempat menunjukkan lebih dari 1.100 dari sekitar 1.240 masjid di Gaza mengalami kerusakan sejak akhir 2023, sehingga membatasi ruang ibadah bagi masyarakat.
Di wilayah Yerusalem Timur, otoritas Israel memberlakukan pembatasan terhadap pelaksanaan salat Idulfitri di Masjid Al-Aqsa. Kebijakan tersebut berdampak pada aktivitas keagamaan warga Palestina yang kemudian melaksanakan ibadah di sekitar kawasan Kota Tua.
Warga juga dilaporkan menghadapi pembatasan aktivitas ekonomi, termasuk larangan membuka toko di sejumlah area. Kondisi ini berdampak pada pendapatan pedagang yang mengalami penurunan signifikan.
Kendati berada dalam situasi konflik dan keterbatasan, warga Palestina tetap berupaya mempertahankan tradisi Idulfitri sebagai bentuk ketahanan sosial dan spiritual di tengah tekanan yang dihadapi, sebagaimana dilansir Al Jazeera, Jumat (20/03/2026). []
Penulis: Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan