BMKG mencatat 34 gempa susulan pascagempa Bitung magnitudo 7,6, disertai kenaikan air laut tanpa dampak kerusakan di wilayah pesisir.
TERNATE – Aktivitas gempa susulan masih terus mengguncang wilayah Maluku Utara pascagempa utama bermagnitudo 7,6 di perairan Bitung pada Kamis pagi, (02/04/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melalui Stasiun Geofisika Ternate mencatat sedikitnya 34 gempa susulan dengan kekuatan bervariasi, sekaligus memastikan kondisi pesisir relatif aman meski sempat terjadi kenaikan permukaan air laut.
Kepala Stasiun Geofisika Ternate BMKG Gede Eriksana Yasa menyatakan, pemantauan terus dilakukan secara intensif untuk mengantisipasi perkembangan aktivitas seismik lanjutan. “Gempa susulan terus terjadi, dan kami terus memantau. Dan sampai sekarang di kantor BMKG Ternate mencatat sampai 34, Pak,” ujarnya dalam siaran CNN TV, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Kamis, (02/04/2026).
Ia menjelaskan, seluruh gempa susulan yang terjadi memiliki kekuatan di bawah gempa utama, meski tetap dirasakan di sejumlah wilayah. “Sampai saat ini 34 gempa susulan, dan magnitudonya bervariasi dia. Tapi ya di bawah gempa utamanya,” sambungnya.
Selain aktivitas gempa, BMKG juga mencatat adanya anomali kenaikan permukaan air laut di beberapa titik pesisir yang terdeteksi melalui alat pemantau tsunami atau tsunami gauge. Fenomena tersebut terjadi di wilayah Ternate dan Halmahera Barat dengan ketinggian sekitar 30 sentimeter.
“Sudah terpantau dari alat eh Tsunami Gauge BMKG. Air sudah naik. Itu kalau di Ternate, Halmahera Barat, itu setinggi 30 sentimeter, Pak,” ujar Gede.
Meski demikian, ia memastikan bahwa kenaikan air laut tersebut tidak menimbulkan dampak kerusakan terhadap permukiman warga. “Sementara sampai saat ini tidak semakin tinggi dan itu sudah yang maksimal sampai di pesisir. Dan ketinggian 30 sentimeter itu tidak menyebabkan adanya kerusakan di Ternate, akibat dari eh gelombang tsunami setinggi 30 sentimeter,” ujarnya.
BMKG sebelumnya sempat menetapkan status waspada tsunami sesaat setelah gempa utama terjadi. Gempa dengan kedalaman 62 kilometer tersebut memang memiliki potensi memicu gelombang laut.
“Gempa ini yang terjadi tadi pagi itu setelah di-update menjadi 7,6, itu memang berpotensi tsunami,” jelas Gede.
Namun, perkembangan terbaru menunjukkan kondisi sudah terkendali. Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Rahmat Triyono menyampaikan bahwa peringatan dini tsunami telah resmi dicabut.
“Peringatan dini TSUNAMI yang disebabkan oleh gempa mag:7.6, tanggal: 02-Apr-26 05:48:16 WIB, dinyatakan telah berakhir,” katanya.
BMKG tetap mengimbau masyarakat untuk waspada terhadap kemungkinan gempa susulan serta terus memantau informasi resmi guna menghindari kepanikan akibat informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan