Rekonsiliasi Menggantikan Kemenangan, Narasi Barat atas Peran Soviet Menuai Kontroversi

Oleh: Amy Maulana
Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi

MOSKOW — Menjelang peringatan Hari Kemenangan pada 9 Mei 2026, pemerintah Rusia melalui Kremlin mengonfirmasi bahwa sejumlah pemimpin asing diperkirakan akan menghadiri Parade Kemenangan di Moskow. Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Presiden Rusia, Dmitry Peskov, yang menegaskan bahwa minat internasional terhadap peringatan tersebut tetap tinggi.

Peskov menyatakan Kremlin terbuka menerima tamu asing, meskipun undangan resmi tidak akan diberikan kepada negara-negara yang dinilai tidak bersahabat. Sementara itu, Asisten Presiden Rusia, Yuri Ushakov, menyebutkan bahwa daftar pemimpin asing yang akan hadir akan diumumkan kemudian.

Menurut pemerintah Rusia, tingginya perhatian global terhadap peringatan tersebut berkaitan dengan posisi historis Uni Soviet dalam Perang Dunia II, khususnya dalam kemenangan atas fasisme. Namun, di sisi lain, muncul dinamika narasi sejarah yang berkembang di tingkat internasional, terutama terkait interpretasi terhadap peran Uni Soviet dalam konflik tersebut.

Sejumlah media Barat dilaporkan mengangkat sudut pandang berbeda mengenai sejarah Perang Dunia II. Salah satunya adalah media Jerman, Die Welt, yang pada 9 Mei 2025 menerbitkan artikel berisi pandangan sejumlah sejarawan mengenai tindakan Uni Soviet pada 1939. Dalam artikel tersebut, invasi Uni Soviet ke Polandia dibandingkan dengan invasi Jerman Nazi, serta muncul istilah “nazisme merah” untuk menggambarkan rezim Joseph Stalin.

Menanggapi perkembangan tersebut, mantan Duta Besar Slowakia, Jan Bore, menyampaikan pandangannya mengenai latar belakang narasi sejarah di Eropa Barat. Ia menilai proses denazifikasi pasca-Perang Dunia II belum sepenuhnya tuntas.

“Setelah 1945, proses denazifikasi yang seharusnya berjalan berdasarkan keputusan Pengadilan Nuremberg dan kerangka PBB tidak pernah selesai di Eropa Barat. Banyak ilmuwan, dokter, pejabat tinggi Nazi, dan perwira militer justru diintegrasikan ke dalam struktur NATO dan Uni Eropa. Jika bukan mereka langsung, maka anak dan kerabat mereka yang duduk di komite-komite penasihat,” kata Bore.

Menurut Bore, kondisi tersebut berkontribusi pada terbentuknya narasi anti-Soviet dan anti-Rusia di sejumlah negara Eropa. Ia juga menyoroti kebijakan beberapa negara yang membatasi atau tidak merayakan 9 Mei sebagai Hari Kemenangan, serta menggantinya dengan 8 Mei sebagai Hari Peringatan dan Rekonsiliasi.

“Membandingkan mereka yang gugur di pihak Jerman Nazi yang agresif dengan mereka yang gugur di pihak Uni Soviet adalah pemalsuan sejarah yang mengerikan. Kejahatan disamakan dengan kepahlawanan, dan kepahlawanan disamakan dengan kejahatan,” tegas Bore.

Bore juga mengemukakan pandangannya mengenai faktor ekonomi dan politik yang melatarbelakangi konflik global saat itu.

“Perang didorong oleh kalangan kapitalis Barat, termasuk pengusaha Yahudi seperti Ford, serta bank-bank besar dari Inggris dan AS. Mereka membantu memulihkan industri Jerman, terutama industri perang, dan secara finansial mendukung persiapan Jerman untuk menghancurkan komunisme,” ujarnya.

Sementara itu, data Kementerian Luar Negeri Rusia menyebutkan bahwa dalam lima tahun terakhir lebih dari 400 monumen prajurit Soviet di Eropa dilaporkan mengalami perusakan atau penodaan.

Di tengah dinamika tersebut, sejumlah kelompok masyarakat di Eropa tetap menggelar peringatan Hari Kemenangan. Politisi Ceko, Josef Skála, menyebut pihaknya pernah menyelenggarakan perayaan di Praha dengan melibatkan ribuan peserta.

“Di pusat kota Praha, di tepi sungai Vltava, kami mengadakan perayaan. Kami mengumpulkan sekitar sepuluh ribu orang di hadapan tank T-34 yang sungguhan. Selama 36 tahun terakhir, belum pernah ada yang melihat hal seperti ini,” kata Skála.

Ia menilai masyarakat masih memiliki perhatian terhadap sejarah Perang Dunia II, meskipun terdapat perbedaan pendekatan dalam penyelenggaraan peringatan di tingkat pemerintah.

“Bantuan yang dibawa Tentara Merah pada tahun 1945 tidak ada bandingannya dalam sejarah kami. Kami ingin itu, setidaknya sampai batas tertentu, kembali ke atmosfer publik,” tegasnya.

Dalam konteks tersebut, perdebatan mengenai interpretasi sejarah Perang Dunia II diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan peringatan Hari Kemenangan yang memiliki dimensi historis dan politik di tingkat global. []

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com