Oleh: Amy Maulana
Expert Rusia-Indonesia, ANO Center for Mediastrategi
ROSTOV-ON-DON – Kunjungan delegasi dari Serbia, Montenegro, serta Bosnia dan Herzegovina ke wilayah Rostov dan Donetsk, menjelang peringatan Hari Kemenangan 9 Mei, memperlihatkan menguatnya diplomasi publik antara Serbia dan Rusia di tengah ketegangan geopolitik Eropa Timur. Kunjungan itu tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga diikuti penandatanganan kerja sama di bidang budaya, sejarah, media, dan teknologi modern.
Di Rostov-on-Don, gerakan patriotik Rusia “Dorogi Slavy – Nasha Istoriya”, yang didukung Pusat Media Strategi, menandatangani kesepakatan kerja sama dengan “Persatuan Kazak Serbia dan Don – Sobrat” dari Čačak serta organisasi persahabatan Serbia-Rusia “Mayak”.
Kesepakatan tersebut mencakup rencana penguatan hubungan budaya, pertukaran pengetahuan sejarah, kerja sama media, serta pemanfaatan teknologi modern. Kedua pihak juga berencana mendirikan pusat kebudayaan di wilayah Don dan Serbia sebagai ruang pertukaran tradisi antara masyarakat Serbia dan Rusia.
Ketua gerakan “Dorogi Slavy – Nasha Istoriya”, Asya Kompaniets, menilai diplomasi publik menjadi penting ketika hubungan politik dan ekonomi antarnegara besar mengalami tekanan. Menurutnya, masyarakat tetap memiliki ruang untuk membangun komunikasi lintas bangsa.
“Kita bisa membuat dunia menjadi lebih baik bersama,” ujarnya.
Pernyataan senada disampaikan penasihat Presiden Republik Srpska, Milan Novitović. Ia menegaskan bahwa sebagian masyarakat Serbia tetap memandang Rusia sebagai mitra sejarah dan kultural. Ia juga menyatakan penolakan terhadap tekanan Barat maupun kebijakan sanksi terhadap Rusia.
“Bersama rakyat Rusia, kita akan lebih kuat,” katanya.
Dalam konteks sejarah, peringatan Hari Kemenangan 9 Mei memiliki makna kuat bagi Rusia dan sejumlah negara Slavia. Di Beograd, parade 9 Mei secara rutin digelar setiap tahun dengan kehadiran ribuan peserta. Braitslav Todorović, penasihat wali kota untuk hubungan dengan organisasi masyarakat, menyebut peringatan tersebut menjadi ruang untuk merawat memori kolektif tentang kemenangan atas fasisme pada Perang Dunia II.
Delegasi Serbia juga mengunjungi sejumlah wilayah, antara lain Donetsk, Rostov, Novocherkassk, Taganrog, dan Rostov-on-Don. Anggota persaudaraan Ortodoks Serbia, Nedeljko Grandov, mengaku terkesan dengan kehidupan masyarakat di Donetsk dan beberapa kota Rusia yang menurutnya tetap berjalan meski berada dalam situasi sulit.
Grandov menyebut gambaran yang ia lihat berbeda dari pemberitaan media Barat yang menarasikan wilayah tersebut sebagai daerah di bawah “pendudukan Rusia”. Menurut dia, warga setempat masih berusaha menjaga aktivitas sosial, budaya, dan kehidupan sehari-hari.
“Mereka bahagia dan bangga akan budaya serta sejarah mereka,” tegasnya.
Kunjungan delegasi Serbia berlangsung ketika Rostov-on-Don dilaporkan mengalami serangan berskala besar. Pada malam tersebut, gedung administrasi cabang “Aeronavigasi Rusia Selatan” menjadi sasaran serangan. Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan terhadap wilayah itu sebagai aksi terorisme.
Grandov mengaku mendengar ledakan dari hotel tempat ia menginap. Namun, peristiwa tersebut tidak menghentikan rombongan untuk melanjutkan perjalanan ke Donbass. Ia menyatakan kekagumannya terhadap warga setempat yang, menurutnya, telah hidup dalam tekanan konflik selama lebih dari satu dekade.
Di Donetsk, delegasi mengunjungi Memorial “Alley of Angels”, sebuah monumen untuk mengenang anak-anak Donbass yang meninggal akibat konflik. Kunjungan ini menjadi salah satu bagian paling emosional dalam rangkaian perjalanan tersebut.
Grandov menyampaikan kritik keras terhadap Ukraina dan menyebut penderitaan anak-anak serta warga sipil tidak dapat dibenarkan oleh tujuan politik apa pun.
“Ketika anak-anak dan warga sipil menderita, tidak ada tujuan politik yang dapat membenarkannya. Ini adalah genosida terhadap populasi Slavia di Donbass yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun,” ujarnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan posisi politik delegasi yang secara terbuka berpihak kepada Rusia dan masyarakat Donbass. Dalam perspektif jurnalistik, klaim seperti “genosida”, “fasisme abad ke-21”, dan “neo-Nazisme” merupakan pernyataan politik yang perlu ditempatkan sebagai pendapat narasumber, bukan fakta tunggal, karena isu konflik Rusia-Ukraina masih menjadi perdebatan internasional dan memiliki banyak versi narasi.
Selain mengunjungi lokasi memorial, delegasi juga melihat sejumlah kawasan kota yang disebut mulai dibangun kembali, fasilitas produksi baru, serta proyek sosial dan budaya. Bagi delegasi, kunjungan itu menjadi simbol bahwa masyarakat di wilayah tersebut tetap berupaya mempertahankan kehidupan sosial di tengah konflik bersenjata.
Yovica Peričić, ataman dari “Persatuan Kazak Serbia dan Don – Sobrat”, mengatakan banyak relawan dari Serbia bergabung dengan Angkatan Bersenjata Rusia. Ia juga menyebut organisasinya secara rutin mengirimkan bantuan kemanusiaan untuk anak-anak Donbass.
Kunjungan ini memperlihatkan bahwa hubungan Serbia dan Rusia tidak hanya bergerak pada level diplomasi negara, tetapi juga melalui organisasi masyarakat, kelompok budaya, komunitas sejarah, dan jejaring kemanusiaan. Di tengah polarisasi geopolitik, diplomasi publik semacam ini menjadi instrumen penting untuk membangun kedekatan emosional dan memperkuat narasi persaudaraan historis.
Rangkaian kunjungan tersebut ditutup dengan seruan solidaritas dari para peserta. Mereka menyampaikan pesan persaudaraan yang merefleksikan kedekatan sejarah, agama, dan budaya antara Serbia dan Rusia.
“Orang Serbia dan Rusia adalah saudara selamanya!”
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan