Pemadaman listrik selama empat hari di sembilan desa Malinau berdampak pada ekonomi, pendidikan, dan aktivitas warga, sementara PLN terus melakukan perbaikan pembangkit.
MALINAU – Krisis pasokan listrik yang melanda sembilan desa di Kecamatan Kayan Hulu dan Kayan Selatan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara) selama empat hari terakhir mulai berdampak luas terhadap aktivitas ekonomi dan kehidupan warga. Perusahaan Listrik Negara (PLN) melalui Unit Layanan Pelanggan (ULP) Malinau menyampaikan permohonan maaf sekaligus memastikan perbaikan terus dilakukan.
Gangguan listrik yang terjadi sejak beberapa hari terakhir itu disebabkan kendala pada mesin pembangkit di wilayah Long Nawang. Kondisi tersebut mengakibatkan terhentinya pasokan listrik di sejumlah desa yang bergantung pada sistem pembangkit setempat.
Manager PLN ULP Malinau Hery Barus menyampaikan bahwa pihaknya memahami dampak serius dari gangguan tersebut terhadap masyarakat.
“Kami memahami bahwa listrik merupakan kebutuhan utama masyarakat dalam beraktivitas sehari-hari. Atas nama PLN, kami menyampaikan permohonan maaf atas gangguan yang terjadi di Long Nawang,” ujar Hery Barus, sebagaimana diberitakan DetikKalimantan, Rabu, (01/04/2026).
Ia menegaskan, tim teknis saat ini terus bekerja di lapangan untuk memperbaiki mesin pembangkit agar pasokan listrik dapat segera kembali normal.
“Rekan-rekan kami di lapangan bekerja tanpa mengenal waktu, menghadapi berbagai tantangan demi memastikan listrik dapat kembali menyala untuk masyarakat. Ini adalah bentuk komitmen kami untuk terus hadir dan melayani hingga ke wilayah terdepan,” tegasnya.
Di sisi lain, pemadaman listrik berkepanjangan mulai dirasakan dampaknya oleh warga. Aktivitas ekonomi di wilayah terdampak dilaporkan terganggu, bahkan bahan pangan seperti daging mengalami pembusukan akibat tidak adanya pendinginan.
Salah seorang warga, Ajang Nyisep, mengungkapkan kondisi tersebut telah berlangsung selama beberapa hari dan mempengaruhi berbagai sektor kehidupan.
“Sudah tiga malam ini mati lampu. Bukan teknisi PLN tidak berusaha, tapi mereka terbatas alat. Dampaknya, pelaku ekonomi lumpuh,” ujarnya.
Selain itu, kegiatan belajar anak-anak juga ikut terdampak, terutama setelah masa libur Lebaran. Minimnya penerangan membuat proses belajar di malam hari menjadi sulit dilakukan.
Ketergantungan warga terhadap listrik PLN juga menjadi kendala tersendiri, karena sebagian masyarakat enggan menggunakan generator set (genset) secara mandiri akibat kekhawatiran terhadap keamanan instalasi listrik.
“Warga kini takut menyalakan genset sendiri karena khawatir bertabrakan arus dengan instalasi PLN,” pungkasnya.
PLN memastikan bahwa proses pemulihan terus dipantau secara intensif dan mengharapkan dukungan masyarakat agar perbaikan berjalan lancar. Pemulihan pasokan listrik diharapkan dapat segera terealisasi guna mengembalikan aktivitas masyarakat di wilayah terdampak. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan