DLH Kutim membekali 50 sekolah dengan pengoperasian SIDIA dan pengisian 24 indikator Adiwiyata agar budaya peduli lingkungan semakin kuat di satuan pendidikan.
KUTAI TIMUR – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) memperkuat kesiapan 50 sekolah dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Pengoperasian Aplikasi Sistem Informasi Adiwiyata (SIDIA) dan Pendampingan Pengisian 24 Indikator Adiwiyata 2026.
Kegiatan yang digelar di Hotel Royal Victoria Sangatta pada Senin (11/05/2026) hingga Selasa (12/05/2026) itu menjadi bagian dari upaya DLH Kutim mendorong sekolah-sekolah di 18 kecamatan agar lebih siap menuju Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten, nasional, dan mandiri.
Sebanyak 50 peserta yang merupakan operator aplikasi SIDIA dari berbagai sekolah mengikuti kegiatan tersebut. Mereka mendapatkan pendampingan teknis terkait pengisian indikator, kelengkapan administrasi, dokumentasi, serta penerapan gerakan sekolah peduli dan berbudaya lingkungan.
Kepala DLH Kutim melalui Kepala Bidang (Kabid) Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Nurrahmi Asmalia mengatakan, program Adiwiyata telah berjalan sejak 2008. Pada awal pelaksanaannya, belum ada bidang khusus yang menangani program tersebut.
“Kmi diberikan mandat untuk membangun dan membina sekolah-sekolah agar mampu mengimplementasikan program ini ,” ujarnya.
Nurrahmi menjelaskan, partisipasi sekolah dalam program Adiwiyata terus meningkat. Namun, ia menegaskan penghargaan bukan tujuan utama, melainkan dampak dari komitmen bersama dalam membangun kebiasaan peduli lingkungan di lingkungan pendidikan.
“Kami berharap seluruh warga sekolah dapat meningkatkan kesadaran dalam pengelolaan lingkungan hidup. Tidak hanya melakukan aksi nyata, tetapi juga harus didukung administrasi dan dokumentasi yang baik,” katanya.
Menurut dia, gerakan Adiwiyata juga sejalan dengan misi kelima Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kutim, yakni pelestarian lingkungan hidup secara berkelanjutan. Karena itu, budaya peduli lingkungan diharapkan tidak berhenti di sekolah, tetapi juga meluas ke keluarga dan masyarakat.
“Kita harus terus menjaga lingkungan hidup demi generasi mendatang. Apa yang kita lakukan hari ini adalah investasi agar anak cucu kita tetap dapat menikmati alam dan kekayaan hayati yang kita rasakan sekarang,” tuturnya.
Ketua Panitia kegiatan Harini mengatakan, bimtek tersebut merupakan langkah nyata pemerintah daerah dalam mendorong sekolah menjadi ruang pendidikan yang peduli dan berbudaya lingkungan.
Perempuan yang menjabat sebagai Pengendali Dampak Lingkungan Ahli Muda DLH Kutim itu menyebut, peserta berasal dari 50 sekolah dari jenjang Sekolah Dasar (SD)/Madrasah Ibtidaiyah (MI), Sekolah Menengah Pertama (SMP)/Madrasah Tsanawiyah (MTs), Sekolah Menengah Atas (SMA)/Madrasah Aliyah (MA), hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK).
Peserta tersebut berasal dari 18 kecamatan di Kutim. Rinciannya, Kecamatan Sangatta Utara sebanyak 20 sekolah, Sangatta Selatan empat sekolah, Teluk Pandan lima sekolah, Bengalon sembilan sekolah, Kaubun tiga sekolah, Kaliorang enam sekolah, Telen dua sekolah, dan Kombeng satu sekolah.
“Harapan kami, sekolah-sekolah yang hadir benar-benar mampu membangun budaya lingkungan hidup yang berkelanjutan di lingkungan sekolah masing-masing,” pungkasnya.
Kegiatan ini menghadirkan narasumber dari Pusat Pengembangan Generasi Lingkungan Hidup (Pusgenri), Kementerian Lingkungan Hidup Republik Indonesia (KLH RI), Elysabeth, sebagaimana dilansir Dlh Kutim, Senin (11/05/2026). Ia memberikan materi terkait pengoperasian aplikasi SIDIA dan pendampingan pengisian 24 indikator penilaian menuju Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten, nasional, dan mandiri tahun 2026.
Melalui bimtek tersebut, sekolah-sekolah di Kutim diharapkan tidak hanya siap secara teknis menghadapi penilaian Adiwiyata, tetapi juga mampu menanamkan perilaku ramah lingkungan sebagai budaya bersama warga sekolah. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan