ilustrasi

Salah Ikuti Penanda, Empat Mahasiswi Tersesat di Gunung Birah

Empat mahasiswi asal Banjarmasin tersesat setelah mengikuti ikatan merah penanda kegiatan penanaman pohon yang mereka kira sebagai petunjuk jalur resmi Gunung Birah.

TANAH LAUT – Kesalahan menafsirkan ikatan merah pada pepohonan sebagai penunjuk jalur pendakian menyebabkan empat mahasiswi asal Banjarmasin tersesat di kawasan wisata Gunung Birah, Desa Kandangan Lama, Kecamatan Panyipatan, Kabupaten Tanah Laut (Tala), Minggu (21/06/2026) malam. Seluruh pendaki akhirnya ditemukan dalam keadaan selamat setelah pengelola wisata dan relawan melakukan pencarian.

Keempat mahasiswi tersebut adalah Salsabila Rusadi, Nur Safitri, Siti Nur Alissa, dan Marlina. Mereka mendatangi Gunung Birah untuk melakukan pendakian tektok, yakni naik dan turun gunung dalam satu hari tanpa menginap atau mendirikan tenda.

Sebagaimana diberitakan Radar Banjarmasin, Senin, (22/06/2026), Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Tala Ricky Boy Siallagan melalui Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Panyipatan Wanda Satriadi mengatakan seluruh pendaki telah dievakuasi menuju base camp Gunung Birah.

“Seluruhnya telah ditemukan dan berhasil dievakuasi ke base camp Gunung Birah pada Senin dini hari sekitar pukul 02.30 Wita,” ujar Wanda saat dikonfirmasi, Senin (22/06/2026).

Peristiwa tersebut bermula ketika rombongan tiba di kawasan wisata Gunung Birah sekitar pukul 15.00 Waktu Indonesia Tengah (Wita). Mereka berencana menikmati pemandangan matahari terbenam atau sunset sebelum kembali turun pada hari yang sama.

Rombongan kemudian memulai pendakian dari base camp sekitar pukul 16.00 Wita. Dalam perjalanan, mereka mengikuti ikatan berwarna merah yang terpasang pada sejumlah pohon karena menganggapnya sebagai penanda jalur resmi.

“Sekitar pukul 16.00 Wita, rombongan memulai pendakian dari base camp. Dalam perjalanan, mereka mengikuti tanda ikatan berwarna merah yang terpasang pada sejumlah pohon dan mengira tanda tersebut merupakan penunjuk jalur pendakian,” katanya.

Ikatan merah itu ternyata bukan penunjuk jalur pendakian, melainkan penanda kegiatan penanaman pohon yang dilakukan masyarakat setempat. Kesalahan tersebut membawa rombongan keluar dari jalur resmi Gunung Birah.

Keempat mahasiswi itu baru menyadari telah tersesat sekitar pukul 19.30 Wita. Salah seorang dari mereka kemudian menghubungi pengelola base camp untuk melaporkan kondisi rombongan dan meminta pertolongan.

“Mereka baru menyadari mereka tersesat pada pukul 19.30 Wita. Salah seorang anggota rombongan kemudian menghubungi pihak base camp untuk meminta bantuan,” terangnya.

Setelah menerima laporan, pengelola wisata bersama para relawan segera menyusuri kawasan di luar jalur pendakian resmi. Tim pencarian menemukan keempat mahasiswi tersebut dalam keadaan selamat sekitar pukul 22.00 Wita.

Proses membawa rombongan kembali menuju base camp berlangsung hingga Senin dini hari. Seluruh pendaki tiba di lokasi awal pendakian sekitar pukul 02.30 Wita.

“Tidak ada korban jiwa maupun luka serius dalam kejadian tersebut. Keempatnya hanya mengalami kelelahan dan kemudian dibantu relawan untuk kembali ke rumah masing-masing di Banjarmasin,” tutupnya.

Peristiwa ini menjadi pengingat bagi pengelola kawasan wisata untuk memperjelas penanda jalur resmi serta membedakannya dari tanda kegiatan lain. Para pendaki juga perlu memastikan rute, memperhitungkan waktu perjalanan, membawa alat komunikasi, dan melapor kepada pengelola sebelum memulai pendakian agar kejadian serupa dapat dicegah. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com