Francisco Guterres Wafat, Timor-Leste Berkabung Tujuh Hari

Pemerintah Timor-Leste menetapkan masa berkabung nasional selama tujuh hari untuk menghormati mantan presiden dan tokoh perjuangan kemerdekaan Francisco Guterres Lú-Olo

DILI – Wafatnya mantan Presiden Timor-Leste Francisco Guterres Lú-Olo tidak hanya meninggalkan duka nasional, tetapi juga mengingatkan kembali perjalanan panjang perjuangan kemerdekaan negara tersebut. Pemerintah menetapkan masa berkabung selama tujuh hari dan memerintahkan pengibaran bendera setengah tiang untuk menghormati tokoh perlawanan sekaligus mantan kepala negara itu.

Guterres meninggal dunia dalam usia 71 tahun ketika menjalani perawatan intensif di Prince Court Medical Center, Kuala Lumpur, Malaysia, Minggu (21/06/2026). Penyebab penyakit yang dideritanya belum diumumkan kepada publik.

Pemerintah Timor-Leste menetapkan masa berkabung nasional mulai Senin (22/06/2026) pukul 15.00 hingga Minggu (28/6/2026) tengah malam. Ketetapan itu diberlakukan di seluruh wilayah negara, termasuk pada gedung pemerintahan serta perwakilan diplomatik di luar negeri.

“Masa berkabung nasional telah diumumkan di seluruh negeri, sebagai tanda duka cita atas meninggalnya Dr. Francisco Guterres Lú Olo, mantan Presiden Republik Demokratik Timor-Leste,” demikian isi ketetapan pemerintah, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Senin, (22/06/2026).

Pemerintah juga menjelaskan batas waktu pelaksanaan penghormatan nasional tersebut.

“Masa berkabung nasional dimulai pukul 15.00 pada tanggal 22 Juni dan berakhir tengah malam pada tanggal 28 Juni.”

Selama masa berkabung, bendera nasional diperintahkan berkibar setengah tiang di seluruh gedung publik, termasuk kedutaan besar, konsulat, kantor perwakilan negara di luar negeri, dan kapal milik pemerintah.

Presiden Timor-Leste José Ramos-Horta menyebut kepergian Guterres sebagai kehilangan besar bagi negara. Ia sebelumnya sempat mengunjungi Guterres ketika menjalani perawatan di Malaysia.

“Saya menerima kabar ini dengan kesedihan yang mendalam dan menganggap kepergian Presiden Francisco Guterres Luolo sebagai kehilangan besar bagi bangsa,” kata Ramos-Horta dalam keterangan resmi.

Saat menjenguk Guterres, Ramos-Horta tidak menyampaikan secara terperinci penyakit yang diderita mantan presiden tersebut. Ia ketika itu hanya menyebut kondisi Guterres “kritis.”

Ramos-Horta mengenang Guterres sebagai patriot dan salah satu pemimpin utama perjuangan pembebasan Timor-Leste. Guterres juga pernah memimpin Front Revolusioner untuk Timor-Leste Merdeka (Fretilin) dan menduduki sejumlah jabatan tertinggi dalam pemerintahan.

Guterres lahir di Ossu pada 7 September 1954. Perjalanan politiknya berkaitan erat dengan gerakan nasionalisme dan perjuangan kemerdekaan sejak Timor-Leste masih berada di bawah pemerintahan kolonial Portugis.

Setelah deklarasi kemerdekaan pada 1975, Guterres bergabung dengan kelompok perlawanan dan menjalankan sejumlah peran kepemimpinan dalam perjuangan pembebasan nasional.

Selepas referendum 1999, ia terpilih sebagai anggota sekaligus pemimpin Majelis Konstituante. Lembaga tersebut bertugas menyusun konstitusi bagi negara yang kemudian memperoleh pengakuan kemerdekaan penuh pada 2002.

Guterres selanjutnya menjadi Presiden pertama Parlemen Nasional Timor-Leste dan menjalankan jabatan tersebut pada 2002–2007. Ia kemudian terpilih sebagai Presiden Timor-Leste pada 2017 dan memimpin hingga 2022.

Masa berkabung nasional menjadi bentuk penghormatan negara terhadap pengabdian Guterres dalam perjuangan kemerdekaan, pembentukan lembaga negara, dan perjalanan demokrasi Timor-Leste. Kepergiannya meninggalkan warisan politik dan perjuangan yang akan terus dikenang oleh masyarakat negara tersebut. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com