Warisan Budaya Lebanon Selatan Terancam di Tengah Pendudukan Israel

Pemerintah Lebanon belum dapat memastikan skala kerusakan situs bersejarah di Lebanon Selatan karena sejumlah wilayah masih dikuasai militer Israel.

BEIRUT – Kerusakan situs warisan budaya di Lebanon Selatan belum dapat dipetakan sepenuhnya setelah serangan udara dan darat Israel selama hampir empat bulan menghantam sejumlah kawasan bersejarah di wilayah tersebut.

Menteri Kebudayaan Lebanon Ghassan Salame mengatakan, penilaian menyeluruh belum bisa dilakukan karena sebagian wilayah masih berada di bawah pendudukan militer Israel meski gencatan senjata telah berlaku selama sepekan, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Minggu (28/06/2026).

Menurut Salame, pasukan Israel masih menguasai zona sekitar 10 kilometer dari perbatasan Lebanon. Kondisi itu membuat otoritas Lebanon belum dapat mengakses sejumlah desa dan situs bersejarah untuk mendata tingkat kerusakan.

“Kami tidak bisa bekerja di bawah bayang-bayang pendudukan. Ada desa-desa yang telah diratakan sepenuhnya,” kata Salame mengutip Al Jazeera.

Zona yang masih diduduki itu mencakup Kastel Beaufort, benteng abad pertengahan yang menjadi salah satu ikon sejarah Lebanon Selatan. Kawasan tersebut juga meliputi desa-desa tua yang telah dihuni selama ratusan tahun oleh komunitas Kristen, Muslim Syiah, dan Muslim Sunni beserta tempat ibadah mereka.

Kerusakan juga dilaporkan terjadi di luar wilayah yang masih diduduki. Kota kuno Tyre dan Nabatieh disebut menjadi sasaran serangan udara Israel.

Salame mengatakan, pengeboman hebat turut menghantam Kota Tebnin. Serangan itu memunculkan kekhawatiran terhadap kondisi benteng peninggalan era Perang Salib yang berada di kawasan tersebut.

Ia menegaskan, warisan budaya tidak hanya terbatas pada peninggalan Romawi dan Fenisia, tetapi juga mencakup bangunan bersejarah, situs arkeologi, serta bangunan yang memiliki fungsi budaya bagi masyarakat.

“Warisan budaya bukan hanya peninggalan Romawi dan Fenisia. Warisan juga mencakup bangunan bersejarah, situs arkeologi, dan bangunan yang memiliki fungsi budaya,” ujar Salame.

Kerusakan situs budaya di Lebanon Selatan menambah daftar panjang dampak perang terhadap kehidupan masyarakat, bukan hanya pada aspek keamanan dan kemanusiaan, tetapi juga pada keberlanjutan memori sejarah lintas generasi. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com