Iran menyatakan lebih dari 75 persen kemampuan rudal dan drone masih utuh dan siap digunakan, berlawanan dengan klaim Donald Trump mengenai besarnya kerusakan persenjataan Teheran.
TEHERAN – Iran mengklaim sebagian besar kemampuan rudal dan pesawat nirawaknya masih dalam kondisi siap digunakan meski telah menghadapi serangkaian serangan Amerika Serikat dan Israel selama hampir enam bulan. Klaim tersebut menjadi bantahan terhadap penilaian Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sebelumnya menyebut persediaan rudal Iran telah jauh berkurang akibat perang.
Wakil Panglima Angkatan Darat Iran untuk Urusan Eksekutif Ali Reza Sheikh mengatakan lebih dari 75 persen kemampuan rudal dan drone Iran masih utuh. Pernyataan itu disampaikan ketika kondisi persenjataan Iran menjadi bagian dari perdebatan mengenai dampak serangan terhadap kemampuan militer Teheran, sebagaimana diberitakan CNN Indonesia, Jumat (14/08/2026).
“Lebih dari 75 persen kemampuan rudal dan drone Iran masih utuh dan siap digunakan,” kata Sheikh seperti dikutip The Middle East Monitor.
Kantor Berita Republik Islam Iran (IRNA) melaporkan Sheikh menilai serangan Amerika Serikat dan Israel sejak Februari tidak memberikan dampak sebesar yang diklaim Washington. Ia bahkan menggambarkan sistem drone Iran sebagai “mimpi buruk bagi musuh”.
Klaim tersebut berlawanan dengan pernyataan Trump pada bulan sebelumnya. Trump saat itu menyebut Iran hanya memiliki sekitar 21 hingga 22 persen dari persediaan rudalnya sebelum perang berlangsung.
Di sisi lain, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee menilai operasi militer Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan kerusakan besar terhadap Iran.
“Operasi yang dilakukan Amerika Serikat dan Israel telah menimbulkan kerusakan yang sangat besar,” kata Huckabee dalam wawancara dengan Newsmax pada Selasa (12/8).
Huckabee juga mengeklaim Iran telah melakukan berbagai tindakan secara langsung maupun melalui kelompok yang didukungnya dan menyebabkan ribuan warga Amerika tewas. Ia mempertanyakan sikap sebagian warga Amerika Serikat yang tidak mendukung kebijakan Trump menghadapi Iran.
Perbedaan klaim tersebut muncul ketika konflik Amerika Serikat dan Iran berlangsung lebih lama dari perkiraan awal Trump. Presiden Amerika Serikat sebelumnya memperkirakan perang berlangsung sekitar enam pekan, tetapi konflik berlanjut hingga hampir enam bulan.
Situasi tersebut turut memunculkan laporan mengenai tekanan terhadap persediaan persenjataan Amerika Serikat. Sejumlah media Amerika Serikat melaporkan stok rudal dan drone Washington ikut mengalami tekanan akibat penggunaan dalam operasi militer melawan Iran. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan