Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi militer terhadap Iran terus berlanjut di tengah meluasnya serangan di kawasan Teluk dan meningkatnya ancaman terhadap stabilitas regional.
WASHINGTON D.C – Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menegaskan operasi militer terhadap Iran belum akan dihentikan. Pernyataan itu disampaikan ketika serangan dan ancaman di kawasan Teluk semakin meluas, melibatkan sejumlah negara serta kelompok Houthi.
Trump menyatakan penghentian operasi militer saat ini bukan menjadi pilihan karena menurutnya Iran masih membutuhkan waktu puluhan tahun untuk memulihkan dampak perang.
“Jika kami pergi sekarang, Iran akan membutuhkan 20 hingga 25 tahun untuk membangun kembali. Kami sama sekali belum selesai… kami tidak akan pergi sekarang,” kata Trump, sebagaimana diberitakan Metrotvnews, Rabu (22/07/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah Yordania, Kuwait, dan Bahrain melaporkan serangan yang dikaitkan dengan Iran. Pada hari yang sama, Trump juga menerima Presiden Lebanon Joseph Aoun di Gedung Putih dan menyatakan dukungan terhadap langkah pemerintah Lebanon dalam memperkuat otoritas negara serta melucuti kelompok Hizbullah.
Bahrain mengklaim berhasil mencegat serangan Iran setelah sirene peringatan berbunyi beberapa kali. Sementara itu, Kuwait dan Yordania melaporkan telah menggagalkan serangan menggunakan pesawat nirawak dan rudal.
Kuwait juga menyebut sejumlah fasilitas pembangkit listrik dan instalasi desalinasi menjadi sasaran serangan dalam beberapa hari terakhir sehingga pemerintah meminta masyarakat menghemat penggunaan energi.
Korps Garda Revolusi Islam Iran mengonfirmasi serangan ke Yordania dengan menyatakan target operasi berada di kompleks yang disebut sebagai tempat personel militer AS di kawasan Rukban. Sebelumnya, Iran juga mengklaim menyerang sejumlah aset militer AS di Kuwait dan Bahrain, termasuk sistem pertahanan udara, instalasi radar, serta bangunan administrasi.
Di sisi lain, ancaman blokade pelabuhan Arab Saudi oleh kelompok Houthi turut memperbesar ketegangan kawasan. Trump memastikan AS siap merespons apabila ancaman tersebut benar-benar dilaksanakan.
“Jika hal seperti itu terjadi, kami akan menanganinya. Kami pernah melakukannya terhadap Houthi sebelumnya,” ujarnya.
Arab Saudi mengecam ancaman blokade tersebut, meski hingga kini belum terdapat kepastian mengenai mekanisme yang akan dilakukan Houthi untuk menutup akses pelabuhan.
Sementara itu, Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) menyatakan sedikitnya 17 personel militer AS tewas sejak konflik kembali pecah pada 7 Juli 2026, sedangkan hampir 100 lainnya mengalami luka-luka. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth juga mengungkapkan biaya perang telah mencapai sekitar 37,5 miliar dolar Amerika Serikat, meningkat dibandingkan estimasi sebelumnya sebesar hampir 29 miliar dolar AS.
Meski situasi keamanan terus memburuk, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei mengatakan komunikasi diplomatik melalui mediator masih berlangsung. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga kembali menyerukan semua pihak menahan diri demi mencegah konflik semakin meluas dan mengganggu stabilitas kawasan. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan