AS Jual Ribuan Bom ke Arab Saudi, Nilainya Rp88 Triliun

AS menyetujui paket persenjataan senilai sekitar Rp88 triliun untuk Arab Saudi sebagai bagian dari penguatan pertahanan Riyadh menghadapi ancaman regional dan mempererat interoperabilitas dengan sekutu Washington di kawasan Teluk.

WASHINGTON – Amerika Serikat (AS) memperkuat kapasitas pertahanan Arab Saudi di tengah meningkatnya ancaman keamanan di kawasan Teluk dengan menyetujui penjualan bom berpemandu dan berbagai peralatan militer senilai US$5 miliar atau sekitar Rp88 triliun.

Persetujuan tersebut mencakup permintaan Arab Saudi untuk membeli 5.004 kit panduan Joint Direct Attack Munition (JDAM) KMU-572, 5.000 kit panduan JDAM KMU-556, 5.004 bom serbaguna BLU-111 berbobot 500 pon, serta 5.000 bom serbaguna BLU-117 berbobot 2.000 pon.

Kementerian Luar Negeri (Kemlu) AS, sebagaimana diberitakan Cnn Indonesia, Jumat, (04/09/2026), menyatakan paket tersebut diarahkan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan Saudi dalam menghadapi ancaman regional sekaligus memperkuat keterhubungan sistem pertahanan dengan pasukan AS dan negara mitra di kawasan Teluk.

“Usulan penjualan ini akan meningkatkan kemampuan pertahanan udara Arab Saudi untuk menangkal ancaman regional saat ini dan di masa depan,” demikian pernyataan Kemlu AS dalam laman resminya, Jumat (04/09/2026).

“Memperkuat pertahanan dalam negerinya, serta meningkatkan interoperabilitas dengan sistem yang dioperasikan oleh pasukan AS dan mitra kawasan Teluk lainnya.”

Selain bom dan perangkat pemandu JDAM, paket penjualan tersebut meliputi sejumlah peralatan pertahanan non-utama, antara lain sistem sumbu FMU-139, detektor target DSU-38 dan DSU-40, kontainer, peralatan pendukung, suku cadang, bahan habis pakai, aksesori, hingga fasilitas perbaikan dan pengembalian.

AS juga akan menyediakan layanan dukungan teknik, teknis, dan logistik serta sejumlah komponen pendukung lain yang berkaitan dengan pengoperasian sistem tersebut.

Bagi Washington, transaksi itu tidak hanya berkaitan dengan pengadaan persenjataan, tetapi juga ditempatkan dalam kepentingan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional AS di kawasan Teluk.

“Usulan penjualan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan target keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan sekutu utama non-NATO yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik dan kemajuan ekonomi di kawasan Teluk,” demikian pernyataan Kemlu AS.

Arab Saudi berstatus sebagai sekutu utama AS di luar Organisasi Perjanjian Atlantik Utara (NATO). Riyadh juga menjadi salah satu mitra strategis Washington di Timur Tengah dan menjadi lokasi keberadaan fasilitas militer AS.

Persetujuan penjualan senjata tersebut berlangsung ketika Saudi menghadapi ancaman serangan pesawat nirawak dan rudal dari Iran serta kelompok Houthi Yaman. Kondisi keamanan regional itu turut meningkatkan kebutuhan Riyadh untuk memperkuat sistem pertahanannya.

Pada awal Agustus, Saudi juga menandatangani pakta pertahanan bersama Pakistan dan Turki. Kesepakatan tersebut mengatur bahwa serangan terhadap salah satu negara anggota akan diperlakukan sebagai serangan terhadap seluruh anggota.

Rangkaian kerja sama pertahanan tersebut menunjukkan upaya Saudi memperluas lapisan perlindungan keamanan di tengah dinamika kawasan yang semakin kompleks. Sementara bagi AS, penjualan paket persenjataan bernilai sekitar Rp88 triliun itu memperkuat keterkaitan pertahanan Washington dan Riyadh sekaligus menopang jejaring keamanan sekutunya di kawasan Teluk. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com