Jepang mendesak Rusia membongkar monumen perang di Khabarovsk karena menampilkan prajurit Soviet menghancurkan lambang Bunga Krisan yang menjadi simbol Kekaisaran Jepang.
TOKYO – Hubungan diplomatik Jepang dan Rusia kembali tertekan setelah Tokyo memprotes monumen perang di Khabarovsk yang menggambarkan prajurit Uni Soviet menghancurkan patok berlambang Bunga Krisan, simbol Kekaisaran Jepang. Pemerintah Jepang mendesak Moskow menghentikan pemasangan dan segera membongkar monumen yang diresmikan Jumat (04/09/2026) tersebut.
Monumen perunggu itu berdiri di Khabarovsk, kawasan Timur Jauh (Far East) Rusia. Penggambaran penghancuran lambang nasional tersebut dipandang Tokyo bukan semata sebagai representasi sejarah perang, melainkan tindakan yang dinilai melukai kebanggaan dan perasaan nasional masyarakat Jepang.
Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi mendesak Pemerintah Rusia segera membongkar monumen tersebut. Persoalan itu kemudian dibawa melalui jalur diplomatik menyusul keberatan resmi Tokyo terhadap simbolisme yang ditampilkan dalam monumen.
Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi menegaskan pemerintahnya telah menyampaikan protes kepada Rusia sekaligus menuntut penghentian pemasangan dan pembongkaran monumen, sebagaimana dilansir Cnn Indonesia, Sabtu, (05/09/2026).
“Melalui saluran diplomatik, kami telah menyampaikan protes keras dan meminta pihak Rusia untuk menghentikan pemasangan serta segera membongkarnya,” tegas Motegi, seperti dilansir Anadolu.
Menurut Motegi, keberadaan monumen tersebut tidak dapat diterima masyarakat Jepang dan dinilai tidak konstruktif bagi hubungan kedua negara. Tokyo memandang visual penghancuran lambang Bunga Krisan memiliki sensitivitas tinggi karena berkaitan dengan identitas serta simbol Kekaisaran Jepang.
Pemerintah Jepang juga menyayangkan belum adanya respons resmi dari Moskow terhadap tuntutan tersebut. Tokyo menyatakan akan tetap menggunakan jalur diplomatik untuk mendesak Rusia membongkar monumen.
Hingga informasi tersebut dipublikasikan, Pemerintah Rusia belum memberikan tanggapan resmi atas protes maupun tuntutan yang disampaikan Jepang.
Perselisihan mengenai monumen muncul ketika hubungan kedua negara telah berada dalam situasi tegang. Sebelumnya, Jepang melayangkan protes setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan kunjungan kerja ke gugusan pulau sengketa di lepas pantai Hokkaido pada Agustus 2026.
Wilayah kepulauan tersebut diklaim oleh Jepang dan Rusia sehingga kunjungan Putin kembali memunculkan keberatan diplomatik dari Tokyo. Persoalan teritorial yang belum terselesaikan itu selama ini menjadi salah satu sumber ketegangan hubungan kedua negara.
Peresmian monumen Khabarovsk kini menambah dimensi baru dalam ketegangan tersebut karena menyentuh simbol nasional dan memori sejarah perang. Penyelesaian polemik akan bergantung pada respons Moskow terhadap tuntutan Tokyo serta kemampuan kedua negara menjaga perselisihan simbolik agar tidak semakin memperburuk hubungan diplomatik. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan