Peserta terbaik MTQ tingkat Banjar akan menjalani pembinaan intensif selama satu tahun sebagai persiapan menghadapi MTQ Kalsel 2027.
BANJAR – Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Banjar (Banjar) akan menerapkan pembinaan intensif selama satu tahun bagi peserta terbaik Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat kabupaten. Strategi jangka panjang tersebut disiapkan untuk memperkuat kafilah Banjar menghadapi MTQ tingkat Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) pada 2027.
Perubahan pola pembinaan menjadi salah satu agenda utama dalam Rapat Kerja Daerah (Rakerda) LPTQ Banjar di Gedung Islamic Center Martapura, Senin (27/07/2026) pagi. Forum tersebut juga mematangkan persiapan MTQ ke-49 tingkat Banjar yang akan berlangsung di Kecamatan Martapura Timur pada 1–4 Agustus 2026.
Wakil Bupati (Wabup) Banjar Habib Idrus Al Habsyi menegaskan, pembinaan kafilah tidak boleh lagi dilakukan secara singkat menjelang perlombaan. Peserta terbaik MTQ tingkat Banjar akan mengikuti program pembinaan yang terencana dan berkelanjutan sebelum berlaga pada MTQ Kalsel 2027 di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU).
“Kita ingin memutus pola pembinaan yang bersifat instan. Prestasi yang membanggakan hanya bisa lahir dari proses pembinaan yang terencana, terukur dan berkelanjutan,” tegasnya.
Menurut Idrus, pola pembinaan selama satu tahun diharapkan dapat meningkatkan kesiapan peserta, baik dari sisi kemampuan membaca dan memahami Al-Qur’an maupun kesiapan menghadapi persaingan pada tingkat provinsi.
Selain membahas strategi pembinaan, Rakerda menjadi forum evaluasi kesiapan penyelenggaraan MTQ ke-49 tingkat Banjar. Idrus meminta seluruh kebutuhan teknis, mulai dari sarana perlombaan, dewan hakim, hingga akomodasi kafilah, dipastikan siap sebelum kegiatan dimulai.
“Saya minta sarana, dewan hakim, hingga akomodasi kafilah telah siap seratus persen agar pelaksanaan di Martapura Timur berjalan sukses,” ujarnya.
Rakerda yang dibuka Wabup Banjar tersebut diikuti perwakilan dari 20 kecamatan. Setiap kecamatan mengirimkan tiga peserta dari unsur pemerintah kecamatan, Kantor Urusan Agama (KUA), dan LPTQ kecamatan.
Idrus menilai keberhasilan program LPTQ tidak semata-mata diukur dari jumlah penghargaan yang diraih dalam perlombaan. LPTQ juga memiliki tanggung jawab membentuk generasi Qurani yang cerdas, berakhlak mulia, dan menjadikan nilai-nilai Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Program kerja LPTQ ke depan diminta berpedoman pada tiga prinsip utama. Pertama, program harus membumi dan disesuaikan dengan kemampuan sumber daya yang tersedia. Kedua, pelaksanaannya harus membangun sinergi antara LPTQ Banjar dan LPTQ kecamatan. Ketiga, setiap program harus dievaluasi untuk memperbaiki kekurangan pada tahun sebelumnya.
Sekretaris II LPTQ Banjar Akhmad Nisfuani mengatakan Rakerda juga digunakan untuk mengevaluasi kinerja organisasi masa bakti 2025 dan merumuskan rekomendasi program kerja 2026.
“Harapannya semua stakeholder, mulai dari LPTQ Kecamatan, KUA Kecamatan, dan Camat se-Kabupaten Banjar dapat memberikan kontribusi pemikiran untuk pengembangan LPTQ yang lebih baik,” katanya.
Selain mematangkan pelaksanaan MTQ tingkat Banjar 2026 dan program pembinaan menuju MTQ Kalsel 2027, forum tersebut menjadi ruang musyawarah untuk menentukan kecamatan yang akan menjadi tuan rumah MTQ tingkat Banjar pada 2027.
Melalui pembinaan selama satu tahun dan koordinasi lintas kecamatan, LPTQ Banjar berharap dapat membentuk kafilah yang lebih siap, meningkatkan prestasi daerah, serta memperluas pembinaan generasi Qurani secara berkelanjutan. []
Redaksi
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan