Respons Cepat Petugas Selamatkan Induk dan Pedet Simental di Kobar

Petugas reproduksi ternak Distan Kobar mengoreksi posisi kepala janin dan membantu persalinan hingga induk serta pedet Simental jantan berhasil diselamatkan.

KOTAWARINGIN BARAT – Respons cepat petugas reproduksi ternak Dinas Pertanian (Distan) Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar) berhasil menyelamatkan seekor induk sapi Simental dan pedet jantannya dari komplikasi persalinan di Desa Lada Mandala Jaya, Senin (27/07/2026).

Kesulitan melahirkan atau distokia terjadi akibat posisi kepala pedet terlipat sehingga menghambat proses kelahiran normal. Petugas harus mengoreksi posisi janin sebelum membantu proses penarikan secara hati-hati agar induk dan pedet tidak mengalami cedera.

Penanganan dilakukan oleh petugas reproduksi ternak Distan Kobar, Suyatna dan Setyo Pramu. Keduanya mendatangi lokasi setelah menerima laporan mengenai induk sapi milik Devi yang mengalami kesulitan melahirkan.

Setelah posisi janin berhasil diperbaiki, pedet Simental berjenis kelamin jantan dapat dikeluarkan dalam kondisi hidup dan sehat. Induk sapi juga berhasil melewati proses persalinan dengan selamat.

Suyatna menjelaskan proses penanganan tersebut, sebagaimana dilansir Mmc Kobar, Senin, (27/07/2026).

“Kasus ini merupakan distokia dengan posisi kepala pedet terlipat. Kondisi tersebut memerlukan tindakan koreksi posisi janin serta bantuan penarikan secara hati-hati agar induk dan pedet tetap selamat. Alhamdulillah, berkat kerja sama petugas di lapangan, pedet Simental jantan berhasil dilahirkan dalam keadaan hidup dan sehat,” ungkapnya.

Induk sapi tersebut diketahui merupakan hasil program Inseminasi Buatan (IB) pada 25 Oktober 2025. Proses IB menggunakan semen beku dari Balai Besar Inseminasi Buatan (BBIB) Singosari dengan kode pejantan Manhatan 61691 WW 0944.

Keberhasilan kelahiran tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan program IB perlu disertai pemantauan kondisi induk, khususnya menjelang masa persalinan. Penanganan yang terlambat berisiko membahayakan keselamatan induk maupun pedet.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Bidang (Kabid) Peternakan Distan Kobar Muhammad Samsudin mengapresiasi kesigapan petugas dalam menangani kasus tersebut. Menurutnya, kecepatan dan ketepatan tindakan menjadi faktor penting dalam menyelamatkan ternak yang mengalami distokia.

“Keberhasilan penanganan kasus distokia ini merupakan bukti dedikasi dan kompetensi petugas reproduksi ternak di lapangan. Kami mengapresiasi kerja keras Saudara Suyatna dan Setyo Pramu yang berhasil menyelamatkan induk maupun pedet. Kami juga mengimbau kepada seluruh peternak agar tidak sungkan menghubungi petugas reproduksi setempat apabila menemukan tanda-tanda kesulitan melahirkan ataupun keluhan kesehatan reproduksi pada ternaknya, sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Distokia merupakan kondisi kesulitan melahirkan yang dapat dipicu oleh posisi janin tidak normal, ukuran pedet terlalu besar, bukaan serviks tidak sempurna, lemahnya kontraksi rahim, atau kelainan pada panggul induk.

Penanganannya harus dilakukan melalui pemeriksaan kondisi induk, koreksi posisi janin, dan bantuan kelahiran oleh petugas atau tenaga kesehatan hewan. Pada kondisi tertentu, dokter hewan dapat melakukan operasi sesar atau sectio caesarea.

Distan Kobar mengimbau peternak memberikan pakan yang cukup kepada induk bunting, menerapkan manajemen pemeliharaan yang baik, dan meningkatkan pemantauan menjelang waktu kelahiran. Peternak juga diminta segera menghubungi petugas ketika menemukan tanda persalinan tidak normal.

Pemantauan dan penanganan dini diharapkan dapat menekan risiko kematian ternak, menjaga keberhasilan program IB, serta mendukung peningkatan populasi dan produktivitas peternakan di Kobar. []

Redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com