Malaysia meningkatkan penyelidikan terhadap dugaan warga Israel yang memasuki negaranya menggunakan kewarganegaraan ganda dan menegaskan akan mendeportasi mereka apabila terbukti.
KUALA LUMPUR – Pemerintah Malaysia memperketat pengawasan terhadap dugaan masuknya warga negara Israel yang menggunakan kewarganegaraan ganda. Langkah tersebut diikuti penegasan bahwa setiap warga Israel yang terdeteksi berada di Malaysia akan dideportasi karena negara itu tidak mengakui Israel.
Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim menyatakan penyelidikan masih berlangsung setelah muncul dugaan adanya warga Israel yang memasuki Malaysia menggunakan paspor negara lain, terutama terkait aktivitas di kawasan Forest City, Johor.
“Kami sedang menyelidiki. kami tidak mengizinkannya. Jika ada, tentu saja ada tindakan yang harus diambil. Apabila ada warga negara Israel, mereka akan segera diusir (dari Malaysia) karena kami tidak mengakui (negara) mereka,” kata Anwar, sebagaimana dilansir CNN Indonesia, Selasa (28/07/2026).
Penyelidikan dilakukan oleh sejumlah lembaga pemerintah, termasuk Departemen Imigrasi Malaysia. Anwar mengatakan kementerian terkait akan menyampaikan hasil investigasi setelah proses pemeriksaan selesai.
Kasus tersebut mencuat setelah beredar unggahan di media sosial yang menyinggung dugaan keberadaan komunitas bertajuk “Kampung Israel” dalam program teknologi di Forest City, Johor. Menindaklanjuti informasi itu, aparat gabungan melakukan pemeriksaan terhadap 266 warga negara asing dari 40 negara.
Hasil pemeriksaan awal menunjukkan seluruh individu yang diperiksa memiliki dokumen perjalanan yang sah. Meski demikian, otoritas Malaysia masih mendalami identitas dan aktivitas mereka untuk memastikan tidak ada penyalahgunaan kewarganegaraan maupun dokumen perjalanan.
Pakar geostrategi Azmi Hassan menjelaskan individu berkewarganegaraan ganda umumnya menggunakan paspor negara selain Israel ketika memasuki Malaysia sehingga proses verifikasi identitas memerlukan penyelidikan lebih lanjut. Aparat juga memeriksa izin usaha, akomodasi, hingga penggunaan lahan guna memastikan tidak terdapat ketidaksesuaian data.
Investigasi turut menyoroti Network School, komunitas hunian bagi pendiri startup, pekerja remote, dan kreator konten yang beroperasi di kawasan Forest City. Pemerintah daerah Johor menyatakan telah menerima berbagai laporan masyarakat mengenai aktivitas komunitas tersebut dan masih menunggu hasil penyelidikan pihak berwenang. []
Redaksi08
Berita Borneo Terlengkap se-Kalimantan